Mojokerto (beritajatim.com) – Tanaman kelor dengan nama latin Moringa Oleifera ini memiliki berbagai manfaat. Diantaranya mengobati diabetes, menormalkan kadar gula dalam darah, menurunkan kolesterol dan masih banyak lagi.
Daun kelor juga dapat dibudidayakan di lahan terbatas dengan perawatan yang sangat mudah. Ada dua cara membudidayakan tanaman kelor, yaitu dengan bibit dan stek batang. Namun budidaya tanaman kelor di Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini menggunakan stek batang.
Cara ini dinilai lebih mudah dan tanaman kelor berproduksi lebih cepat. Selain menyiapkan stek batang tanaman kelor, juga yang perlu disiapkan adalah polybag sebagai media tanam sebelum ditanam di tanah.
“Pilihlah pohon kelor besar dengan kondisi sehat. Ambil batang pohon dengan usia yang tidak terlalu tua maupun terlalu muda dengan ukuran 50-70 cm,” ungkap Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Balongmojo, Anik Anifah (41), Selasa (31/1/2023).
Batang kelor tersebut ditancapkan ke polybag yang telah disiapkan dengan posisi miring. Meskipun pohon kelor tetap hidup tanpa disirami, tapi dengan menjaga suplai airnya maka tanaman akan tumbuh sehat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tanaman-kelor”]
“Bila sudah berukuran 30-50 cm, bisa dipindah ke media tanah dengan cara dibuang polybag. Buat lubang tanam dengan ukuran lebar 40×40 cm dengan kedalaman 30-40 cm dan beri pupuk kandang kemudian disiram,” katanya.
Pertumbuhan tanaman kelor juga cepat, lanjut Anik, jika tanah subur maka tanaman kelor cepat tumbuh. Apalagi kalau sering dipanen, daunnya akan tumbuh terus dan hijau. Tapi kalau tidak pernah dipanen maka daunnya banyak yang kuning.
“Semakin sering diambil daunnya maka tanaman kelor semakin bagus. Kalau saya lebih suka dipangkas selain pohon tidak menjadi tinggi, tujuannya agar semakin banyak cabang yang tumbuh. Penyiraman seperti tanaman biasa, tidak ada perawatan khusus,” katanya.
Anik menjelaskan, jika budidaya tanaman kelor sangat mudah karena pertumbuhannya cepat. Untuk memanennya, dua sampai tiga bulan daun kelor sudah bisa dipanen. Semakin sering dipanen maka akan cepat tumbuh kembali.
“Kalau permintaan tanaman kelor sementara ini belum ada sehingga kita manfaatkan yakni dengan inovasi dengan pentol. Pentol kelor karena warga banyak yang menjadi pengrajin dan banyak tanaman kelor di Desa Balongmojo,” urainya.
Budidaya tanaman kelor ini, tambah Anik, juga mendukung program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto dalam upaya penurunan angka stunting. Karena manfaat daun kelor juga bisa untuk mencegah stunting.
“Daun kelor juga bisa mengatasi permasalahan stunting yang diderita oleh balita. Sebab daun kelor dipercaya memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi balita agar terhindar dari masalah stunting,” tegasnya.
Sekedar diketahui, di Desa Balongmojo memiliki program One House One Kelor. Sehingga masyarakat Desa Balongmojo di setiap pekarangan rumah ada tanaman kelor. Tak hanya di pekarangan rumah namun tanaman kelor juga banyak tumbuh di sepanjang jalan desa. [tin/kun]
![Melihat Budidaya Tanaman Kelor Desa Balongmojo Mojokerto Warga Desa Balongmojo menanam kelor di halaman rumah. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG-20230131-WA0009-1024x576.jpg)





