Pasuruan (beritajatim.com) – Untuk melangsungkan hidup, warga suku Tengger di Kabupaten Pasuruan bermata pencaharian sebagai petani. Dari 100 persen warga suku Tengger di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, 90 persen di antaranya adalah petani dan sisanya ASN.
Pilihan ini muncul karena luasnya lahan pertanian yang subur. Warga suku Tengger sendiri banyak yang menanam kentang, kubis, dan juga daun bawang.
Ada juga warga yang menanan wortel, namun hanya sebagian saja di wilayah bawah Desa Ngadiwono. Sempat ada petani gandum namun terus berkurang.
“Petani gandum sendiri saat ini sudah mulai minim peminatnya. Dikarenakan musim yang semakin tidak menentu, kadang hujan lalu tiba-tiba panas,” kata Kepala Desa Ngadiwono, Atim Priyono.
Atim juga menceritakan, banyak anak yang merantau di kota besar untuk melanjutkan sekolah. Namun setelah lulus, mereka akan kembali dan bertani menggarap perkebunan keluarganya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Pasuruan”]
Di lain tempat Sekretaris Desa, Denny juga menambahkan bahwa warga saat ini sangat didukung dengan lahan pertanian yang luas. Dikarenakan tidak ada investor yang masuk dan membuat pabrik diwilayahnya.
“Di sini sangat menjunjung adat istiadat yang biasa kita sebut ngungkuli. Ngungkuli itu sendiri merupakan tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi dari tempat ibadah,” kata Denny.
Sehingga para warga bisa terus menjaga tradisi turun temurun dan melestarikan alam. [ada/beq]






