Lamongan (beritajatim.com) – KH. Abdussalam Sohib bin KH. Sohib Bisri, atau akrab disapa Gus Salam menghadiri Pelantikan PAC GP Ansor Tikung, Kabupaten Lamongan, masa khidmah 2022-2024, Minggu (29/1/2023).
Dalam pelantikan ini, Kiai muda dari Pondok Pesantren Denanyar, Jombang itu menyampaikan sejumlah pesan kepada para pengurus Ansor dan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) setempat, agar senantiasa berakhlaqul karimah dan selalu dekat dengan para sesepuh dan ulama.
“Dekatilah para sesepuh dan para ulama, karena keberkahan itu membersamai para pembesar atau sesepuh. Serta terus jaga akhlaq karena kemuliaan sejati itu didapat dari budi pekerti yang baik, bukan karena nasab atau keturunan,” ujar Gus Salam.
Cucu dari KH. Bisri Syansuri ini juga menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan dari orang yang baik atau beriman itu kelak anak cucunya bakal mengikuti langkah baiknya, sehingga nantinya akan dikumpulkan di surga bersama-sama.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ansor”]
Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Ath Thuur ayat 21: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Pihaknya menegaskan, dzurriyah atau anak cucu itu tidak terbatas pada silsilah nasab saja. Dalam kitab Tafsir Sowi, Gus Salam menyebut, dzurriyah dibagi menjadi dua, yakni dzurriyah binnasab (keturunan yang lahir dari ayah ibu) dan dzurriyah bissabab (keturunan karena suatu sebab).
“Dzurriyah bissabab ini juga terbagi dua, yaitu bisababil mahabbah (sebab cinta) dan bisababil ‘ilmi (sebab ilmu). Di antara semua itu yang paling unggul adalah bisababil ‘ilmi, lalu Bisababil mahabbah, baru bisababin nasab,” terangnya.
Oleh karenanya, tutur Gus Salam, meski bukan menjadi berasal dari dzurriyah asli para muassis atau masyayikh, namun jangan pernah berkecil hati saat berjuang di NU. Pasalnya, derajat dzurriyah yang lebih utama adalah dengan jalan mengamalkan ilmu atau menaruh rasa cinta kepada para ulama.

“Justru kita harus lebih semangat dalam berjuang di NU, melalui dzurriyah bisababil ilmi dan bisababil mahabbah. Dua hal inilah yang lebih mendapat prioritas berkumpul bersama masyayikh di surga kelak,” tandasnya.
Lebih jauh, Gus Salam menerangkan, cara terbaik dalam merawat NU di era terkini adalah dengan tetap menjaga kebersamaan dan terus menguatkan barisan. Dengan menjalankan dua hal itu, maka NU tidak akan mudah goyah atau rapuh dalam menghadapi segala tantangan.
“Ibnu Mubarok dalam syairnya menyebutkan bahwa sungguh kebersamaan merupakan tali Allah, maka berpegang teguhlah. Serta maqolah lain yang menyebutkan bahwa tidak boleh ada ketaatan untuk menjalankan maksiat. Ini bisa kita jadikan pegangan dalam menjalankan organisasi,” paparnya.
Masih kata Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar ini, apabila dalam menjalankan sebuah organisasi ditemukan sebuah perintah yang tidak sesuai dengan AD /ART, maka sebagai anggota berhak untuk menolaknya. “Apabila perintah tidak sesuai dengan AD/ART organisasi atau jami’iyah, maka kita berhak menolaknya, disampaikan dengan cara mengingatkan. Sebaliknya, jika perintah itu positif, maka wajib dijalankan secara bersama-sama,” tegasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”lamongan”]
“Begitupun apabila perintah itu datang dari pucuk tertinggi kepengurusan NU, Rois Syuriah, maka harus segera dilaksanakan. Kesampingkan ego sektoral, kenali para sesepuh khususnys Rois syuriah. Dalam berjuang di suatu Banom NU, jika kita sampai tidak kenal siapa Rois syuriah kita, maka ironi,” imbuhnya.
Diungkapkan Gus Salam, penamaan Ansor sebagai organisasi gerakan pemuda NU oleh KH Wahab Chasbulloh ini karena adanya alasan yang kuat. Menurutnya, hal itu sesuai karakter yang dimiliki oleh Ansor, seperti yang tersirat dalam Quran Surat Al Hasyr ayat 8 sampai 10.
“Ada 3 klaster sahabat, yakni Muhajirin, Ansor dan yang datang setelah keduanya. Untuk Ansor sendiri, adalah mereka yang sudah mukim di Madinah, sudah iman sebelum kedatangan Rasulullah, punya kecintaan yang kuat dan menyambut dengan lapang dada kepada sahabat pendatang. Tidak ada rasa hasud dalam hatinya terhadap apapun yang didapat oleh Muhajirin, serta mendahulukan kepentingan orang lain, meski dia juga membutuhkan,” jelasnya.

Gus Salam berpesan, generasi penerus NU harus mampu mengambil hikmah dari penamaan dan karakter Ansor tersebut. Ia juga mengajak agar para pengurus Ansor yang baru saja dilantik bisa mengaplikasikannya saat menjalankan roda organisasi.
“Dalam kitab Ihyak Ulumuddin, Imam Ghozali mempunyai 6 langkah ntuk menstabilkan motivasi ibadah. Hal ini juga bisa kita aplikasikan dalam ranah organisasi, di antaranya Musyarathah (menyusun program), Muraqabah (merealisasikannya), Muhasabah (evaluasi), Mu’aqabah (apresiasi), Mujahadah (kesungguhan meningkatkan prestasi) dan Mu’atabah (tidak berpuas diri),” pungkasnya saat berada di Lamongan. [riq/suf]






