Malang (beritajatim.com) – Ma’arif Day merupakan program yang memberi wawasan bahwa pembelajaran dapat dilakukan dimana saja, dilakukan dengan bahagia, dan menumbuhkan kemerdekaan berekspresi.
Program dilangsungkan berkat kerjasama Madrasah Tsanawiyah (MTS) Nurul Huda, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) kabupaten Malang, dan Desa Inggris Singosari.
Abdul Malik Karim Amrullah, Ketua LP Ma’arif NU kabupaten Malang menjelaskan, bahwa Ma’arif Day ini dideklarasikan agar menjadi paradigma baru bagi sekolah dan madrasah ma’arif dalam melakukan inovasi. Program tersebut juga mendukung merdeka belajar yang dicanangkan pemerintah.
“LP Ma’arif NU Kab Malang mengajak civitas akademika ma’arif untuk kembali pada fitrah lembaga pendidikan Islam yang berorientasi ilmu, transformatif, mandiri bermutu dan berhaluan aswaja an Nahdliyah. Mereka harus paham bahwa lembaga pendidikan ma’arif pada awalnya berangkat dari masyarakat, karenanya outcome pendidikan harus mbarakai dan manfaati untuk masyarakat,” jelasnya pada Jumat (27/01/2023).
Ma’arif day diselenggarakan di MTs Nurul Huda Babadan Ngajum setiap jumat. Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan murid membuat projek di luar kelas. Hasilnya dibagikan kepada masyarakat. Salah satu proyeknya membuat sabun kopi yang sudah dilatih oleh tim LP Ma’arif.
“Hasilnya harus bisa diproduksi dan masyarakat mengambil manfaatnya. Ma’arif Day betul-betul berupaya agar perkembangan manusia seutuhnya (holistic human development) bisa diwujudkan dengan baik atau mengutip bahasa Prof KH Tolchah Hasan bahwa pendidikan Islam harus bisa menyelamatkan dan menumbuhkembangkan fitrah manusia,” sambung Dr Amak, sapaanya.
Siswa Maarif, menurutnya, harus dapat belajar learning to know, dengan bahagia, kemudian hasil belajarnya harus diterapkan (learning to di). Hasil penerapannya itu harus bisa bermanfaat untuk masyarakat (learning to live). Dari hal itu tampak karakter sebenarnya siswa ma’arif (learning to be) yang dikenal masyarakat luas.
Dia menjelaskan MTs Nurul Huda sengaja dipilih, karena letaknya strategis di daerah lereng pegunungan. “Sekolah itu selama ini dianggap sekolah kedua, kita akan menunjukkan bahwa madrasah ini betul betul-betul layak menjadi pilihan bagi siswa yang ingin belajar dengan bahagia,” jelasnya menutup.
Kepala MTS Nurul Huda Ngajum Muhammad Rosyid menambahkan bahwa maarif day ini sengaja dideklarasikan di Ngajum karena sesuai dengan visi Madrasah. “Kami ingin bisa berkontribusi kepada masyarakat. Program ma’arif day ini sebagai ajang rekreasi siswa kami agar tidak jenuh karena belajar di kelas,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kecamatan-singosari”]
Dia berharap, ke depan MTS Nurul Huda mampu memiliki life skill atau kecakapan hidup. Siswa diharapkan bisa memberi manfaat untuk masyarakat sekitar. Sebagai penyelenggara, MTS Nurul Huda juga menggandeng Desa Inggris Singosari.
“Dengan menggandeng Desa Inggris Singosari, kami berkeinginan untuk mendesain International Class Program (ICP) dimana siswa kami bisa mengembangkan bahasa inggrisnya dengan baik,” tukasnya.
Terpisah, Avin Nadhir selaku Founder Desa Inggris Singosari memandang jika bahasa Inggris menjadi sebuah kebutuhan. Setiap orang pasti dapat belajar dengan mudah. “Ini kita tunjukkan bahwa ternyata dengan cara belajar yang menyenangkan, anak-anak dengan cepat bisa menguasai bahasa Inggris tersebut,” ujarnya. (dan/ted)






