Lamongan (beritajatim.com) – Setelah Sunan Sendang atau Raden Nur Rohmat berhasil memindahkan masjid dari Mantingan, Jawa Tengah ke Bukit Amitunon, kini Sendangduwur di Paciran, dalam waktu semalam saja, hal lain yang dibutuhkan adalah sumber air.
Keberadaan sumber air itu begitu penting sebagai sarana bersuci dan pemenuhan hajat untuk minum bagi masyarakat sekitar. Karena itu, Sunan Sendangduwur segera bermunajat dan meminta petunjuk kepada Allah agar dimudahkan dalam mendapatkan sumber air.
“Setelah Sunan Sendang bermunajat kepada Allah, akhirnya muncullah sinar yang datang dari langit dan jatuh tepat di timurnya masjid. Sunan Sendang bergegas melihatnya, lalu muncul kepulan asap, yang menjadi penanda keberadaan sumur,” cerita Irfan Masyhuri, keturunan ke-13 dari Sunan Sendangduwur.
Selang sejenak, Sunan Sendang bersama masyarakat kemudian menggali tanah dan tiba-tiba air keluar dari bawah tanah tersebut. Melihat hal itu, Sunan Sendang sangat bersyukur. Sumber air yang selama ini dinanti akhirnya muncul.
“Sampai sekarang sumber air itu masih dimanfaatkan oleh warga sekitar, seperti dialirkan ke kamar mandi yang berada tepat di sebelah sumur dan juga disalurkan ke tiga gentong yang berada di depan masjid. Banyak juga para peziarah yang datang untuk mengambil air dari sumur ini,” kata Irfan.

Masyarakat meyakini keberadaan sumur ini memiliki keistimewaan. Di ketinggian bukit Amitunon yang mencapai 70 meter dari permukaan tanah, sumur itu mampu mengeluarkan air melimpah.
Warga sekitar menamai sumur itu dengan sebutan Sumur Giling, yang letaknya kini tidak jauh dari Masjid Tiban atau Masjid Nur Rahmat, tepatnya di halaman sebelah selatan masjid dan berada di antara rumah warga di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Lamongan”]
Nama Sumur Giling sendiri merujuk pada cara mengambil airnya menggunakan gilingan kayu yang dilengkapi dengan tali. Warga yang ingin mengambil air ini pun bisa dengan menempati tempat duduk yang berada di sebelah kiri dan kanan gilingan, kemudian gilingan diputar menggunakan kaki.
Saat gilingan itu diputar dengan kaki, maka tali yang dipasang akan mampu mengangkat dan menurunkan timba. Gilingan itu sengaja dibuat oleh Sunan Sendang untuk memudahkan warga yang ingin mengambil air dari dalam sumur.

Irfan juga menjelaskan, di lokasi sumur ini terdapat atap dari kayu yang masih utuh hingga sekarang. Hanya saja, beberapa bagian dari sumur giling ini sengaja ditambahkan dengan besi untuk mempertahankan bentuk keasliannya dari dulu.
“Cara mengambil airnya sambil duduk, kaki kita menggerakkan gilingan seperti mengayuh sepeda. Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 35 meter, tak pernah kering meski musim kemarau panjang,” jelasnya.
Tak hanya Sumur Giling, di lokasi sekitar masjid dan makam Sunan Sendangduwur juga terdapat satu sumur lagi. Sumur itu bernama Sumur Paidon atau Pengidon, yang konon berasal dari tempat meludahnya Sunan Sendang.
“Sumur Paidon ini dulunya adalah tempat meludahnya Mbah Sunan, yang kemudian menjelma menjadi sumur. Masih alami, air muncul dari balik batu. Air dari sumur ini kerap diambil oleh para santrinya yang ingin memperoleh keberkahan dari beliau. Hingga kini sumur ini masih ada dan tak pernah mengering saat kemarau,” papar Irfan. [riq/beq]






