Surabaya (beritajatim.com) – Ketika menjelajahi media sosial, terkadang kalian akan menemukan istilah – istilah baru yang menjadi trend dan banyak digunakan, padahal menurut kalian istilah tersebut terdengar asing dan unik.
Salah satunya adalah istilah ‘Kidult’ yang cukup ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Warganet mengira bahwa istilah ini lagi – lagi adalah sebuah kata buatan dengan makna yang aneh.
Nyatanya, ‘Kidult’ sudah hadir di kamus – kamus Bahasa Inggris sejak lama. Berasal dari dua kata yakni kid dan adult, julukan ini berkaitan dengan fenomena orang dewasa yang gemar mengoleksi mainan anak – anak. Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mempopulerkan kata ini, tepatnya pada 1980-an.
Fenomena ini diperkenalkan oleh Jim Ward-Nichols, seorang psikolog yang berasal dari Steven Institute of Technology, New Jersey, Amerika Serikat.
Sementara itu, kata ‘Kidult’ juga ada pada kamus Cambridge Dictionary, yang didefinisikan sebagai orang dewasa yang senang melakukam hal – hal atau membeli barang-barang yang ditujukan untuk anak-anak. Sedangkan dalam data Collins Dictionary, istilah ini sudah muncul dalam surat kabar Sunday Times yang terbit pada 2007 silam.
Fenomena ‘Kidult’ pun semakin merajalela. Pria atau wanita dewasa yang berusia 30 hingga 40 tahun berbondong – bondong untuk membeli mainan meski mainan tersebut sebenarnya ditujukan untuk anak – anak, seperti mainan mobil, action figure, mainan Lego, bahkan boneka Barbie lengkap dengan rumah – rumahannya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”literasi”]
Tak disangka – sangka, fenomena ini berpengaruh pada pertumbuhan industri, terlebih ketika pandemi COVID-19 melanda. Melihat ini sejumlah perusahaan pun berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada, mereka membuat lini produk yang ditargetkan untuk para Kidult, atau mereka orang dewasa yang ingin bersenang – senang dengan barang kesukaan mereka saat kecil.
Yap, biasanya orang – orang Kidult ini adalah mereka yang memiliki keinginan di masa kecil namun tidak dapat terpenuhi, baik karena kondisi maupun kesulitan biaya. Sehingga saat dewasa dan mereka telah mampu, mereka pun meluapkannya dengan membeli apapun yang dahulu tak bisa mereka beli.
Dengan mengoleksi mainan – mainan tersebut, mereka dapat memuaskan keinginan inner child yang sebelumnya meronta – ronta. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga suka membeli dan mengoleksi mainan? (mnd/ian)






