Surabaya (beritajatim.com) – Jejak digital menjadi momok yang cukup serius bagi pengguna internet. Sama seperti kehidupan normal pada umumnya, internet juga bisa berisi hal-hal yang negatif.
Sebagai pengguna internet kita juga harus tahu apa itu jejak digital, apa artinya bagi pengguna, dan cara menghapus jejak digital.
Pernahkah kamu mendengar ungkapan bahwa internet adalah mesin penyimpanan raksasa seumur hidup?
Ungkapan ini berfungsi sebagai peringatan yang sering digunakan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak perilaku online. Karena sekali kita terhubung dengan internet, maka data yang kita hasilkan akan terus tersimpan menjadi jejak digital.
1. Pengertian Jejak Digital
Setiap orang menghasilkan data online yang dibuat setiap kali mereka menggunakan Internet. Setiap mengakses internet, kita meninggalkan semacam “remah elektronik” yang jika dikumpulkan dapat digunakan untuk membuat profil berdasarkan minat dan aktivitas yang kita lakukan.
Saat ini, dianggap ada dua jenis jejak digital, yakni aktif dan pasif:
Jejak Digital Aktif
Jejak digital aktif dihasilkan setiap kali kita membagikan informasi secara online.
Seperti ketika membuat profil di media sosial, keterangan ketika berbelanja online, berlangganan saluran YouTube, atau menerima cookie dari situs web. Itu semua adalah tindakan sadar dan aktif yang membentuk jejak digital kita.
Jejak Digital Pasif
Jejak digital pasif dibangun melalui proses tersembunyi di mana informasi dikumpulkan tentang tanpa sepengetahuan atau persetujuan pengguna.
Hal ini terjadi saat jejaring sosial mengumpulkan konten yang kita lihat dan menghasilkan saran berdasarkan tren tersebut. Dapat juga terjadi saat sebuah situs mengumpulkan informasi statistik tentang perilaku penggunanya.
2. Manfaat Jejak Digital
Jejak digital fungsinya bergantung pada niat pengguna. Sehingga bisa ada dua sisi, yakni negatif dan positif.
Sisi manfaat jejak digital memudahkan seseorang melakukan kegiatan internet seperti bertransaksi online. Misalnya mencari pekerjaan online hingga memperluas bisnis dan marketing.
Saat ini sebuah perusahaan dituntut memiliki sistem pengoperasian secara online. Menurut sebuah studi di Spanyol tentang investasi periklanan di jejaring sosial, 46% konsumen menggunakan jejaring sosial setiap hari untuk mencari informasi tentang merek yang mereka minati.
3. Dampak Buruk Jejak Digital
Jejak digital dapat memiliki efek negatif bagi pengguna, terutama pada pengguna yang belum mempunyai literasi digital yang cukup.
Semua informasi yang kita bagikan di internet bisa bersifat publik dan permanen. Banyak penipuan yang bisa kita temukan di internet, terutama terkait transaksi keuangan. Jika seseorang membagikan terlalu banyak informasi pribadi, maka besar kemungkinan ia menjadi target penipuan bahkan pelecehan.
Jejak digital juga berkaitan dengan perilaku pengguna. Sebagian orang mempunyai akun anonim yang difungsikan sebagai versi kebalikan dari kehidupan nyata. Banyak kasus yang menunjukkan seseorang mendapatkan kerugian karena tidak bisa memfilter perilaku di media sosial.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kasus”]
4. Menghilangkan Jejak Digital
Setelah data kita dipublikasikan di internet, hampir tidak mungkin untuk menghapusnya secara keseluruhan. Terutama jika setiap situs yang pernah dimuat telah mengumpulkan beberapa bentuk informasi tentang aktivitas online yang dilakukan.
Namun jangan khawatir. Kita masih bisa mengelola jejak digital dan menguranginya. Terutama untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
– Nonaktifkan atau hapus semua profil media sosial, langganan, layanan web, dan akun belanja.
– Cari nama kamu di Google, kemudian lihat apa saja informasi yang muncul. Kemudian hapus informasi itu jika memungkinkan.
– Hapus cookie dari browser atau aplikasi lainnya untuk mencegah situs web terus mengumpulkan data tentang aktivitas online kamu.
– Meskipun tindakan ini tidak menjamin bahwa jejak digital akan bersih, setidaknya tindakan tersebut memungkinkan kamu untuk memiliki kontrol lebih besar atas jejak digital yang ditinggalkan.
5. Kontrol Aktivitas Online Dengan Bijak
Pertimbangkan apa saja informasi pribadi yang bisa dibagikan di Internet. Perhatikan juga di mana dan dengan siapa kamu membagikannya. Terutama jika data tersebut menimbulkan risiko keamanan siber.
Lakukan juga verifikasi keamanan platform tempat kamu memberikan data pribadi. Sesuaikan pengaturan keamanan untuk mengontrol siapa yang dapat melihat konten yang diposting.
Secara rutin lakukan peninjau terhadap postingan lama, lalu hapus apabila memuat informasi yang beresiko.
Dan terakhir pertimbangkan efek perilaku online yang kamu hasilkan terhadap orang lain dalam jangka panjang. (Kai/ian)






