Bondowoso (beritajatim.com) – Bondowoso dikenal sebagai kota Tape. Karena, memang khas tapenya yang disebut memiliki rasa berbeda dibanding kabupaten lain. Lebih legit, dan keset.
Banyak yang menyebut, bahwa belum disebut ke Bondowoso jika belum menikmati tape khas Bumi Ki Ronggo.
Di Bondowoso sendiri ada berbagai macam produksi tape. Seperti tape 77, tape 32, tape 86,tape 96, dan lainnya.
Belum lagi, beberapa produk turunan tape seperti, tape bakar, bolu tape, prol tape, tape krispi, suwar-suwer tape.
Salah seorang pengusaha tape Sarinah, asal Desa Poler, Kecamatan Binakal, bernama Kholifah mengaku, tapenya memiliki rasa lebih legit dan keset.
Katanya, itu berdasarkan pengakuan sejumlah pembelinya dari berbagai kota. Karena itulah, tapenya selalu laris manis hingga saat ini.
Selain dijual di seputaran wilayah Bondowoso. Tapenya, juga dijual ke Kabupaten Jember, hingga Probolinggo yang dikirim setiap hari. Dengan jumlah, mencapai 1 kwintal per harinya.
“Kami tak membatasi pembeli memberi nama tapenya apa. Namun, memang biasanya diganti nama, tapi ada keterangan tape Bondowoso. Seperti yang di Probolinggo,” jelasnya.
Wanita berusia sekira 32 tahun itu menjelaskan, bahwa rasa tapenya memang berbeda dibanding produksi tape lainnya. Bahkan, beda dengan tape buatan pengrajin di dalam kota yang lain.
Ini disebabkan oleh racikan ragi khas, yang merupakan resep turun menurun dari kakek neneknya.
“Raginya itu meracik sendiri, itu resep dari kakek nenek,” tuturnya.
Selain itu, jenis singkong Bondowoso yang dipilihnya juga tak sembarangan. Ada standar khusus yang ditentukan oleh usaha tape yang telah dilakoninya selama enam tahun terakhir itu.
Singkongnya haruslah singkong berwarna kuning atau dikenal dengan singkong mentega. Tak boleh ada warna hitam di tengah singkongnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kuliner”]
Selain itu, saat dicuci singkong-singkong yang mengapung langsung disisihkan. Karena, itu menunjukkan singkongnya tidak bagus.
“Dalam satu kwintal singkong sendiri bisa menghasilkan 60 kilogram tape,” urainya pada beritajatim.com, pada Rabu (7/12/2022).
Di lain sisi, dirinya juga tetap mempertahankan proses memasak tape yang tradisional. Mulai dari memasak tetap menggunakan tungku.
Karena, selain hemat. Menggunakan tungku juga bisa lebih cepat juga.
“Kalau pakai tungku itu bisa hanya 45 kilogram singkong langsung dimasak,” urainya.
Dirinya juga masih menggunakan daun pisang dalam membuat tape.
Karena, penggunaan daun pisang disebut oleh Kholifah, mempengaruhi kualitas tape. Karena, jika menggunakan kertas lilin atau alas berbahan dasar plastik, justru akan berpengaruh terhadap proses peragian.
Mengingat, setiap berapa jam sekali penutup tape untuk proses peragian harus dibuka.
“Kalau pakai kertas lilin itu, airnya itu tak bisa diserap,” jelasnya.
Tapenya sendiri dibanderol dengan harga Rp 7.500 per kilogram pada pengepul.
“Tidak tahu pengepul dijual berapa. Kami bebaskan,” pungkasnya.(och/ted)






