Blitar (beritajatim.com) – Jumlah penyandang disabilitas kota Blitar mencapai lebih dari 600 orang. Banyaknya jumlah penyandang disabilitas itu pun menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota Blitar untuk memberikan ruang yang sama dengan masyarakat pada umumnya.
Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah Kota Blitar memperhatikan para penyandang disabilitas adalah dengan memberikan sejumlah alat bantu, mulai dari kursi roda hingga alat bantu dengar. Sejumlah alat bantu itu pun diberikan langsung oleh Wali Kota Blitar, Santoso di Balai Kusuma Wicitro Kota Blitar.
“Tadi kami berikan bantuan kursi roda, ada alat bantu dengar ada alat bantu jalan
Serta beberapa alat pelatihan usaha kepada penyandang disabilitas hal itu sebagai bentuk pengakuan kita akan keberadaan mereka,” kata Santoso, Wali Kota Blitar, Senin (5/12/2022).
Pemberian alat bantu ini merupakan wujud nyata dari perhatian pemerintah kota Blitar untuk merangkul para penyandang disabilitas. Selama ini Pemerintah Kota Blitar telah berupaya memberikan hak dan ruang yang sama kepada para penyandang disabilitas.
Salah satunya yakni dengan didirikannya Pusat Layanan Autis (PLA) di jalan Simpang Kapuas Kelurahan Kauman Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Pusat layanan autis ini diperuntukkan sebagai wadah pembelajaran dan pembinaan anak berkebutuhan khusus yang ada di kota Blitar.
Metode terapi untuk anak autis di PLA kita Blitar ini juga telah menerapkan standar Nasional dan Internasional serta disesuaikan dengan karakteristik anak. Di antara metode tersebut adalah metode one on one, Pendekatan ABA (Applied behavior Analysis), Strategi visual, Son rise, Kaufman, Floor Time, Play therapy, Glen Dolman, Sensory motor training, Conductive Education, Development Therapy dan Traning Skill.
Metode tersebut dinilai mampu memberikan pelayanan terpadu bagi anak berkebutuhan khusus serta bisa mengasah keterampilan untuk menuju kemandirian bagi para disabilitas di masa mendatang.
“Selama ini sudah kami bangun kan pusat layanan autis center, adalah lembaga sekolah yang bisa dimanfaatkan para penyandang disabilitas” papar Santoso.
Selain penyediaan pusat layanan autis, Pemkot Blitar juga membangun fasilitas umum yang ramah bagi penyandang disabilitas. Seperti pemberian tanda di trotoar bagi penyandang tunanetra.
Sejumlah kantor pemerintahan pun, kini juga telah memberikan fasilitas bagi para difabel yang menggunakan alat bantu jalan maupun kursi roda. Diharapkan dengan begitu, para penyandang disabilitas tersebut merasa diakui keberadaannya di lingkungan masyarakat umum. Sehingga nantinya para disabilitas bisa mandiri dan tidak minder dengan masyarakat umum.
“Oh sudah, contohnya di jalan itu kan ada satu jalan yang diberikan tanda sebagai petunjuk bagi orang yang tidak bisa melihat sehingga mereka di trotoar itu bisa membedakan jalan yang bisa dilewati atau tidak,” jelas Wali Kota Blitar.
Dalam kegiatan pemberian alat bantu ini, Pemerintah Kota Blitar juga menyerahkan peralatan pelatihan usaha kepada para disabilitas. Diharapkan dengan peralatan tersebut para disabilitas bisa hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
[berita-terkait number=”4″ tag=”blitar”]
Peralatan usaha yang diberikan oleh Pemerintah Kota Blitar sendiri terdiri dari bahan keterampilan batik, bahan keterampilan bunga, bahan keterampilan bros, bahan keterampilan keset, dan bahan keterampilan kalung.
“Tadi juga kami berikan alat pelatihan usaha, besar harapan kami para penyandang disabilitas ini bisa hidup mandiri atau pun justru mampu menjadi pelopor usaha untuk warga sekitar,” pungkasnya.
Selama ini para penyandang disabilitas di Kota Blitar sendiri memang terbilang sulit untuk mencari kerja. Masih belum adanya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabilitas menjadi penyebab utama sulitnya mereka memperoleh pekerjaan. Para disabilitas sendiri selama ini memilih jalur wirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari menjahit, hingga membatik. [owi/but]






