Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar aksi di depan kantor Yayasan pada, Senin (5/12/2022 siang. Aksi tersebut dilakukan dalam rangka tuntutan pada Yayasan agar segera melantik Rektor terpilih, Prof Dr H Maskuri MSi.
Pihak yayasan pun akhirnya melakukan pelantikan Prof Maskuri pada Senin (5/12/2022) pukul 15.30 WIB. Sebelumnya pelantikan sempat ditunda pada 30 November 2022.
Penundaan tersebut akibat adanya surat edaran dari PBNU. Sehingga pihak yayasan tidak melakukan pelantikan pada tanggal yang sudah ditetapkan.
Ali Ashari, Kabid SDM dan Keagamaan Yayasan Unisma menjelaskan pada wartawan latar belakang surat tersebut karena ada salah satu dewas yang melapor ke PBNU tentang adanya ketidaksesuaian AD/ART yayasan.
“Kami sudah diklarifikasi oleh tim klarifikator PBNU pada hari Sabtu 3 Desember lalu),” terang Ali Ashari, Kabid SDM dan Keagamaan Yayasan Unisma pada wartawan.
Menurutnya semua sudah sesuai prosedur. Oleh sebab itu yayasan menerbitkan SK dan melaksanakan tahapan ke 14 di pilihan Rektor yaitu pelantikan di tanggal 30 November 2022 meski ditunda.
Lebih lanjut, dia berharap pada masa jabatan ketiga Prof Maskuri ini, Unisma makin unggul. “Jelanyas kita sudah kondisi unggul. Namun jangan terlena. Prof Maskuri harus lebih kuat untuk menjaga keunggulan itu dan terus meningkatkan. Pak Maskuri harus membonceng orang-orang se kapasitas beliau. Manajerialnya kuat dan Pak Maskuri itu fighter,” terangnya.
Sementara itu Presiden Mahasiswa Unisma, Ahmad Najib, menjelaskan jika mahasiswa yang turun aksi merupakan bagian dari Aliansi Mahasiswa Unisma Raya, yang meliputi ormawa-ormawa Unisma dan elemen mahasiswa lain.
“Kami merasa ketidakstabilan yang yang terjadi karena belum dilantiknya Rektor terpilih. Ada kekosongan kepemimpinan ini berbahaya,” kata Najib.
Oleh sebab itu, mahasiswa meminta rektor terpilih segera dilantik demi kestabilan Unisma. Tidak ada penanggung jawab akademik. Mahasiswa juga berdialog dengan yayasan dan menyanggupi pelantikan rektor terpilih. Menurut Najib, proses pilrek di Unisma sah.
“Jika ada kekosongan kepemimpinan itu, civitas akademi akan dirugikan karena tidak ada penanggungjawabnya. Misalkan pencairan anggaran dan lain-lain,” ujarnya.
Ali Ashari menambahkan ketika tim klarifikator PBNU ke Unisma, masing-masing memiliki argumen sendiri. Dikatakan, pengawas yayasan ada tiga orang. Tapi atas surat laporan ke PBNU itu tidak diketahui anggota lain dan tidak ada paraf.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unisma”]
Maka itu dianggap atas nama pribadi tapi kok atas nama pengawas. Dia menyatakan, sebagai PTS maka butuh sosok yang bisa memberi rezeki pada 800 nyawa karyawan dan dosen. “Kalau ada yang bisa fight untuk menghidupi institusi kenapa tidak. Sebab jika nanti ada pengurangan jumlah mahasiswa, maka akan berdampak pada lembaga,” kata Ali.
Dikatakan, pilrek di Unisma tidak mengenal suara. Jadi diseleksi administrasi, kesehatan dan psikologi. Juga ada paparan visi misi. Lalu diberikan pertimbangan ke senat dan ditabulasi.
Secara khusus dewan pembina juga memberikan voting. Hasilnya empat suara untuk Prof Maskuri dan tiga suara bagi Prof Nur Hidayati. Hal ini didasari pada penetapan SK dari yayasan. Pelantikan Rektor Unisma periode 2022-2026 bertempat di kantor yayasan. [dan/but]






