Lamongan (beritajatim.com) – Selain Makam Sunan Drajat, di Paciran Lamongan juga terdapat destinasi wisata religi yaitu Makam Sunan Sendang. Sunan Sendang adalah seorang wali yang menyebarkan Islam di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.
Sunan Sendang bernama asli Raden Noer Rohmat ini berasal dari kawasan yang saat ini dinamakan Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong. Ia merupakan keturunan Syekh Abdul Qohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid dari Baghdad, kini menjadi bagian dari Irak.
“Syekh Abdul Qohar merantau ke Tanah Jawa dan menikah dengan putri dari Tumenggung Sedayu, anak Joyo Sumitro, bernama Dewi Sukarsih,” ujar Irfan Masyhuri, keturunan ke-13 dari Sunan Sendang.
Singkat cerita, Irfan menuturkan Raden Nur Rohmat lahir pada 1520 Masehi. Saat remaja pindah dari Sedayulawas ke tempat yang bernama Dukuh Tunon, Dataran tinggi di Kecamatan Paciran.
“Beliau pindah ke Dukuh Tunon, pas ada peperangan di daerah Sedayu. Beliau meninggalkan Tumenggungan Sedayu dan pergi babat alas ke sini, Bukit Amitunon (Desa Sendangduwur dulu),” terang Irfan, yang juga juru kunci Makam Sunan Sendang itu.
Raden Noer Rohmat memulai dakwahnya melalui bidang pertanian. Irfan menyebut, meski tanah di Desa Sendang ini sulit ditanami, Raden Noer Rohmat berhasil mengelola pertaniannya dengan baik.
“Dari dulu, mayoritas warga di sini berpencaharian sebagai petani. Namun, masyarakat sini banyak yang heran saat Raden Noer Rohmat berhasil mengelola pertanian dengan baik dan sukses, karena di sini itu tanahnya termasuk sulit untuk ditanami,” bebernya.
Melalui keahliannya itulah, Irfan menjelaskan, Raden Noer Rohmat menyebarkan ajaran Islam dan mendidik masyarakatnya melalui media pertanian. “Beliau menyebarkan Islam sembari mengajari warga untuk bercocok tanam yang baik. Secara perlahan, masyarakat banyak yang memeluk Islam,” imbuhnya.
Lebih lanjut, kemasyhuran Raden Nur Rohmat yang sakti dan memiliki ilmu yang tinggi ini akhirnya sampai ke telinga Sunan Drajat. Untuk memastikannya, kemudian Sunan Drajat bertandang ke Sendangduwur untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut.
Pertemuan antara Sunan Drajat dan Raden Noer Rohmat pun terjadi. Konon, kala itu keduanya beradu ilmu. Sunan Drajat langsung menguji kemampuan dan kesaktian yang dimiliki oleh Raden Noer Rohmat.
“Saat itu Sunan Drajat menguji Raden Noer Rohmat dan meminta buah siwalan kepadanya. Diceritakan bahwa Sunan Sendang mengatakan kepada Sunan Drajat untuk menunggu lebih dulu, lantaran pekerjanya masih keluar,” tutur Irfan.
Mendengar hal itu, sambung Irfan, Sunan Drajat memutuskan untuk mengambil buah siwalan (ental) sendiri, yakni dengan cara mencari pohon lontar yang paling besar dan menggoyangkannya, hingga akhirnya buahnya banyak yang jatuh.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Lamongan”]
Sontak, Raden Nur Rohmat berkata kepada Sunan Drajat, meminta izin kepada Sunan Drajat untuk mengambilkan buah siwalan. Raden Noer Rohmat menilai, cara yang digunakan oleh Sunan Drajat mengakibatkan semua buah jatuh, baik buah yang sudah matang maupun yang masih muda.
“Menurut Raden Noer Rohmat, cara yang digunakan oleh Sunan Drajat bisa mengakibatkan buah siwalan ada yang terbuang sia-sia. Selain itu, cara seperti itu menyebabkan siwalan habis dan tak bisa dinikmati oleh anak cucu selanjutnya,” kata Irfan.
Setelah meminta izin kepada Sunan Drajat, Raden Noer Rohmat kemudian bermunajat dan menghampiri pohon lontar yang besar lainnya. Raden Noer Rohmat mengelus-elus pohon hingga akhirnya pohon lontar langsung merunduk tepat di hadapan Sunan Drajat.
“Raden Noer Rohmat lalu mempersilakan Sunan Drajat untuk mengambil buah siwalan yang disukai dari pohon yang sudah merunduk. Dari situ, Sunan Drajat pun mengakui kehebatan Raden Nur Rohmat,” tandas Irfan.
Menurut Irfan, masih banyak kisah lainnya yang menceritakan pertemuan antara Sunan Drajat dengan Sunan Sendang. Tetapi, kisah di atas merupakan kisah paling populer di masyarakat.
“Raden Noer Rohmat diberikan gelar Sunan Sendang oleh Sunan Drajat. Gelar itu dinisbatkan pada tempat atau lingkungan Raden Noer Rohmat tinggal, yang terdapat Sendang di kawasan itu. Sunan Drajat meminta Raden Noer Rohmat untuk terus menyebarkan ajaran Islam dan membangun masjid,” jelasnya.
Sebagai informasi, Sunan Sendang wafat pada 1585 Masehi, dimakamkan tepat di sebelah barat masjid Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran. Lokasinya sekitar 6 kilometer dari Makam Sunan Drajat.
Makam Sunan Sendang itu memiliki bentuk yang lebih minimalis serta artistik. Di sekitar area makam juga terdapat bangunan gapura berbentuk tugu bentar. Lalu gapura paduraksa dan uyung-uyung, yang diperkirakan berdiri pada tahun 1483 Saka atau 1561 Masehi.
Selain memiliki arsitektur yang megah, area makam ini juga dipenuhi ukiran yang indah, yang juga kental dengan nuansa Hindu dengan keberadaan dua buah batu hitam menyerupai kepala kala.
Bahkan, dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Di dinding area makam atau di gapura paduraksa terdapat relief surya majapahit dan model relief burung merak. [riq/beq]









