Ngawi (beritajatim.com) – Witing tresna jalaran saka kulina. Ungkapan yang berarti cinta bersemi karena sering bertemu itu sangat dirasakan oleh pasangan Lanidi (82) dan Parti (67), warga Dusun Ngrini RT 12 RW 03, Desa Gandong, Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Keduanya resmi menjadi pasangan suami istri pada Minggu (27/11/2022) berikut resepsinya dilaksanakan saat gelaran “Mas Bupati Mantu”, acara nikah massal yang dilaksanakan Pemkab Ngawi dengan bergotong royong dengan seniman, seniwati, dan pengusaha rias manten dan penyewa dekor.
Kisah cinta sepasang lansia ini cukup romantis. Bermula sekitar 3 tahun lalu. Rumah keduanya dekat namun saling membelakangi. Pun, sumber air yang digunakan adalah sumur yang sama, memungkinkan keduanya kerap bertemu.
Parti mengaku jika dia kerap melirik Lanidi yang saat itu sudah sekitar 30 tahun lebih menjadi duda. Lanidi hidup sederhana dengan beternak dan bertani.
Saat itu, Parti juga sudah menjanda. Setelah suaminya meninggal dunia, Parti pindah ke rumah saudara yang dekat dengan rumah Lanidi.
Sejak saat itu, keduanya jadi sering bertemu, mengobrol dan kerap berjumpa saat mencari rumput di hutan atau ladang sekitar desa.
“Awalnya karena gandeng sumur, sumurnya kan dipakai bersama. Sejak saat itu sering ketemu, dan saat itu juga saya sering ngobrol dengan Mbah Lan, beliau rajin merawat ternak dan bertani,” kata Parti saat beritajatim.com berkunung ke kediamannya, Rabu (30/11/2022)
Awalnya, keduanya hanya biasa saja. lama kelamaan, keduanya saling peduli dengan kondisi masing-masing. Parti yang melihat Lanidi hidup sendiri sejak membangun rumah dua tahun lalu jadi kerap memasakkannya.
Sampai suatu ketika Lanidi pun meminta Parti untuk menjadi pasangan hidupnya. Setidaknya, ada orang yang mau merawatnya di usia senja. Parti lantas mengiyakan karena dia pun merasakan hal yang sama.
“Sejak saat itu kami menikah siri ya, dan mulai tinggal bersama. Kami merawat ternak dan bertani,” kata Parti.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ngawi”]
Senada dengan Parti, sejak Lanidi membuat rumah sendiri dia pun didorong oleh saudara-saudaranya untuk mencari pasangan hidup. Karena ada janda yang perhatian padanya yakni Parti, dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meminta Parti jadi pendamping hidup.
“Saya nembung ke dia, apakah mau jadi pendamping hidup saya. Meski di rumah sederhana, dan merawat ternak dan bertani, karena dia mau, ya kami akhirnya hidup berdampingan. Sejak saat itu Dik Parti ini tinggal serumah dengan saya dan kami menikah siri,” kata Lanidi.
Meski begitu, tak jarang keduanya sempat mendengar omongan tetangga soal pernilahan siri mereka. Namun, mereka pun tak menggubris dan tetap bekerja. Hingga akhirnya, ada kesempatan untuk meresmikan pernikahan mereka denga gelaran Mas Bupati Mantu.
Keduanya hanya mengharap pernikahan mereka bisa bahagia dan langgeng. Apalagi, Parti yang sudah menikah untuk ketiga kalinya. Dari dua pengalamannya menikah, yang ketiga kali ini dia benar-benar yakin dengan sosok yang mendampingi hidupnya.
“Benar-benar beda dengan pernikahan saya yang dulu. Hanya Mbah Lan yang saya cintai, saya senang karena beliau ini setia, saya siap menjadi pendamping hidup Mbah Lan sampai akhir hayat saya,” katanya. [fiq/beq]







