Malang (beritajatim.com) – Memasuki musim hujan dan potensi cuaca buruk. Dinas Lingkungan Hidup alias DLH Kota Malang mengaku menerima sekitar 480 laporan permintaan pemangkasan pohon.
Masyarakat khawtir pohon yang cukup rindang tumbang ketika cuaca buruk seperti hujan dan angin kencang melanda. Sebab, beberapa waktu lalu di Jalan Mayjend Sungkono, Kota Malang dua pengendara motor tertimpa dahan tumbang. Satu orang meninggal dunia dan satu orang terluka.
“Ini ada beberapa laporan dan aduan terkait kondisi pohon. Ada sekitar 480, baik aduan potong maupun pemangkasan,” ujar Kepala DLH Kota Malang, Noer Rahman Wijaya, Senin (25/11/2022).
Meski mendapat ratusan laporan. DLH tidak serta merta melakukan penindakan. Mereka harus menelaah dahulu dengan Picus Sonic Tomograph, alat pendeteksi kondisi pohon yang didatangkan dari Jerman pada 2017 lalu. Alat ini mampu mengukur, kemampuan produksi oksigen hingga kekuatan akar pohon. Hasil scan alat ini bisa menjadi bahan evaluasi sebelum dipangkas.
“Kadang kadang tua itu belum tentu tidak sehat. Kadar sehat juga perlu diukur dengan kemampuan pohon menyerap karbondioksida untuk menghasilkan oksigen dan kekuatan akarnya. Itu bisa dilihat di alat tersebut,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kota-malang”]
Dengan kondisi cuaca saat ini, mereka mengaku rutin melakukan pemeliharaan dan pengawasan pada pohon pohon besar di Kota Malang. Tetapi mereka terkendala peralata. Dari 2 mobil crane pemangkas pohon dengan jangkauan mencapai 15 meter hanya 1 unit yang berfungsi.
“Jangkauan alat kami cuma sampai 15 meter. Gak bisa menjangkau pohon 20 meter. Jadi kami upayakan pengadaan alat yang mampu menjangkau 21 meter pada 2023 nanti,” tandasnya. [luc/but]






