Jakarta (beritajatim.com) – Bank Indonesia mengambil keputusan cukup berat. Dewan Gubernur BI dalam rapat yang digelar pekan ini, diputuskan suku bunga 7-Day Reserve Repo Rate naik 50 bps menjadi 5,25 persen.
Kenaikan juga terjadi pada Deposit Facility sebesar 50 bps jadi 4,50 persen. Juga pada suku bunga Lending Facility 50 bps menjadi 6,00 persen.
Kondisi ini dinilai tentu membawa dampak bagi perekonomian. Dampak paling cepat dirasakan oleh para pelaku industri dengan meningkatnya biaya modal.
“Dampak negatig yang paling dirasakan adalah kenaikan suku bunga kredit perbankan dan lembaga keuangan,” ujar ekonom INDEF, Agus Herta Sumarto.
Agus meminta Pemerintah meredam efek negatif dengan membuat kebijakan shock absorber. Kebijakan tersebut dinilai mampu meredam guncangan yang terjadi pada sisi supply dan demand.
“Dari sisi supply, pemerintah bersama Bank Indonesia dapat memberikan relaksasi terhadap berbagai pungutan yang selama ini menjadi beban biaya yang harus ditanggung para pelaku industri,” kata Agus.
Dia menambahkan, pemerintah dapat memberikan relaksasi pajak melalui sejumlah kebijakan seperti tax holiday dan subsidi suku bunga khusus untuk sektor-sektor padat karya. Sehingga bisa mengurangi beban biaya modal yang meningkat pada pelaku industri.
Dengan insentif dari pemerintah, pelaku industri dapat memangkas biaya modal. Sehingga diharapkan tidak perlu lagi efisiensi dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Dari sisi demand, pemerintah diminta terus menjalankan program jaring pengaman sosial guna menjaga daya beli masyarakat. Ini diwujudkan melalui penyaluran bantuan sosial, BSU, dan BLT.
“Masyarakat yang tergerus daya belinya baik akibat kenaikan harga barang dan jasa ataupun karena berkurangnya pendapatan, dapat tetap melakukan konsumsi sehingga permintaan terhadap barang dan jasa yang diproduksi perusahaan tidak mengalami perubahan signifikan,” kata Agus.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengungkapkan meski suku bunga acuan naik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih bisa menembus angka 5,17 persen. Dia menilai ekonomi Indonesia masih bisa bertahan meski dibayang-bayangi ketidakpastian global.
Neraca transaksi berjalan terus mencatat surplus di Kuartal IV 2022 berkat harga komoditas yang tinggi. Meski demikian, ia mengingatkan pertumbuhan impor telah mengejar pertumbuhan ekspor.
Faisal memprediksi pelemahan ekspor diasumsikan masih berlanjut seiring dengan penurunan harga komoditas pada 2023. Sedangkan pertumbuhan impor akan terus menguat sebab didorong oleh membaiknya mobilitas masyarakat dan aktivitas investasi.
[berita-terkait number=”2″ tag=”suku-bunga-acuan-naik”]
“Impor terus menguat di tengah pemulihan ekonomi yang kuat sementara ekspor berisiko melemah karena meningkatnya kekhawatiran akan resesi global,” tambahnya.
Sedangkan sektor modal dan keuangan akan terus menghadapi risiko penurunan. Ini disebabkan angka inflasi global yang terus naik, sehingga memaksa adanya kebijakan normalisasi moneter global yang lebih agresif.
Kondisi tersebut akan memicu arus modal keluar (capital outflow) dan berisiko mempengaruhi portofolio investasi.
“Satu-satunya sumber arus masuk akan berasal dari investasi langsung, didorong oleh pemulihan ekonomi domestik yang solid dan keberhasilan industri hilir,” katanya.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga diperkirakan tidak akan selemah saat ini. Rupiah diprediksi akan menguat.
“Kami memperkirakan nilai tukar Rupiah berada di sekitar Rp15.186 per dolar AS pada akhir 2022, rata-rata sekitar Rp15.080 per doalr AS sepanjang tahun,” ujar Faisal. [hen/beq]






