Jember (beritajatim.com) – Nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) saat lulus kuliah memang penting. Namun ternyata IPK bukan segalanya dalam mencari kerja. Pengalaman berorganisasi juga penting dan ikut menentukan pencarian kerja.
Setidaknya ini terungkap dalam kegiatan Unej Career Expo 2022, 16-17 November 2022. Kegiatan rutin tahunan ini digelar di gedung auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan diikuti lima belas perusahaan.
Fathur Amirul, Human Capital Business Partner Specialist PT. BFI Finance Tbk, Wilayah Jawa Timur-Bali, tudak mewajibkan pelamar harus berpendidikan jurusan tertentu. “Namun pelamar yang memiliki pengalaman aktif berorganisasi saat kuliah menjadi nilai tambah, sebab biasanya mereka sudah terbiasa mengorganisir kegiatan dan melayani orang,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (18/11/2022).
PT. BFI Finance Tbk berencana merekrut minimal sepuluh tenaga baru melalui Unej Career Expo 2022 ini. Para rekrutan baru ini akan dipersiapkan dalam program management trainee yang diproyeksikan bakal menjadi manajer di masa depan di PT. BFI Finance Tbk.
Sebagai perusahaan pembiayaan, Fathur Amirul menjadikan kemampuan berkomunikasi, sanggup bekerja dalam tim, piawai bernegosiasi, dan mampu melayani pelanggan sebagai persyaratan utama seorang pelamar.
Pentingnya pengalaman berorganisasi dan aktif di organisasi kemahasiswaan diakui Inneke Rahayu Sulistyowati, lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) 2022. Semasa kuliah dia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FKM dan Komunitas Mahasiswa Peduli HIV/AIDS FKM hingga aktif di Paduan Suara FKM. Ini membuatnya lebih percaya diri.
[berita-terkait number=”3″ tag=”unej-jember”]
Pengalaman berorganisasi selama menjadi mahasiswa penting dalam ikhtiar mencari kerja. Namun dalam pandangan Erwin Prasetyo, alumni Fakultas Hukum Unej Angkatan 1999 yang saat ini bekerja sebagai aparatur sipil negara, iklim akademik saat ini berbeda dengan masanya menjadi mahasiswa.
“Yang saya rasakan saat itu adalah pemberian ruang yang cukup baik bagi pengembangan organisasi di lingkup kampus, baik intra maupun ekstra. Rumus kuliah lebih 14 semester tidak lulus akan di-drop out tentunya telah ada, namun masih jarang terdengar kabar mahasiswa di-drop out gara-gara masa studinya telah melampaui 14 semester,” kata Erwin yang pernah aktif di Korps Suka Relawan Palang Merah Indonesia Unej.
Sementara saat ini, lanjut Erwin, mahasiswa berjibaku segera menyelesaikan studi tepat waktu. “Ditambah lagi dengar-dengar ada pembatasan waktu aktivitas di dalam kampus, semacam jam malam yang bisa jadi mahasiswa menjadi kurang waktu bercengkrama dalam ruang-ruang diskusi formal, terlebih ruang diskusi non formal,” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”mahasiswa”]
“Padahal di satu sisi, ruang-ruang aktivitas organisasi mahasiswa nyata menjadi semacam kawah candradimuka bagi agent of change, wahana yang luar biasa untuk mengasah dan mematangkan soft skill mahasiswa,” kata Erwin.
Sutrisno, Sekretaris Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) Jember, juga menyebut situasi kampus Unej tidak mendukung mahasiswa untuk aktif berorganisasi. “Kampus tidak ingin terganggu dengan kemungkinan munculnya potensi soft skill mahasiswa berupa critical thinking,” kata mantan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini.
Narto, Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jember, tak menampik adanya perbedaan iklim kampus saat ini dibandingkan dua dasawarsa lalu. “Namun saat ini mulai membaik dari sebelumnya. Sekarang Unej mulai memberikan ruang bagi organisasi mahasiswa ekstra kampus beraktivitas di dalam kampus. Sebelumnya kan tidak boleh organisasi ekstra berkegiatan di dalam kampus. Beberapa organisasi ekstra diperbolehkan berkegiatan, memasang poster di dalam kampus,” katanya. [wir/suf]






