Kediri (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kota Kediri, mencatat jumlah kasus HIV /Aids terus meningkat sejak 2003-2022. Angkanya pun kini mencapai mencapai 1.672 kasus.
Hendik Suprianto, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri mengatakan, kasus HIV di Kota Kediri dari tahun ke tahun cenderung meningkat. “Infeksi HIV sudah terjadi di semua kecamatan dengan beragam profesi dan golongan,” kata Hendik Suprianto.
Berdasarkan data yang terekap Dinkes Kota Kediri, dari total jumlah tersebut didominasi oleh pihak laki-laki dengan total 1.346 kasus dan perempuan terdapat 763 kasus.
Tingginya kasus HIV ini salah satunya disebabkan oleh perilaku seks bebas. Selain itu, hal tersebut karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang perilaku seksual berisiko, pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, serta penyakit menular seksual.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Kota-Kediri”]Sejak ditemukan pertama kali di tahun 2003, yakni terdapat 2 kasus, kini keberadaan virus tersebut terus berkembang dan menyentuh di angka 1.672 kasus, dihitung secara komulatif sampai dengan tahun 2022 ini.
Berdasarkan jenis kelamin, kasus terbanyak terjadi pada laki-laki yaitu sebanyak 1.346 kasus dan wanita 763 kasus.
Sedangkan bila ditinjau dari profesi atau pekerjaan, pertama ditempati oleh wiraswasta, kedua PSK (pekerja seks komersial) dan ketiga ditempati oleh karyawan dan ke empat ditempati oleh IRT (ibu rumah tangga). “Lalu bila ditinjau dari angka kematian dari keseluruhan jumlah kasus yang ada terdapat 148 orang dinyatakan meninggal,” sebutnya.
Sementara itu berdasarkan kelompok umur, Hendik menyebut di urutan pertama ada dikelompok umur 20 – 29 tahun, lalu disusul dikelompok umur 30 – 39 tahun dan di umur 39 – 49 tahun. “Remaja menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami infeksi HIV. Itu tak lepas dari mobilitas mereka yang dinilai tinggi,” tambahnya.
HIV pada remaja juga dikaitkan dengan kurangnya edukasi pada remaja tentang tubuh mereka, baik dari segi fisik maupun mental hingga mengetahui bagaimana menjalin hubungan yang sehat dengan lawan jenis.
Akibatnya, anak-anak usia tanggung ini akan membuat keputusan yang cenderung tidak aman, dan memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan tubuh mereka. “Tidak hanya lebih rentan tertular atau terinfeksi HIV, kondisi tersebut juga membuat remaja rentan mengalami penyalahgunaan narkoba,” ungkapnya.
Menurut Hendik, kendala utama dalam penanggulangan HIV selama ini yakni masih banyak orang yang belum paham tentang virus mematikan itu. Selain itu, keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan HIV juga masih minim.
Padahal masalah HIV ini menjadi tanggung jawab bersama termasuk masyarakat. “Keterlibatan semua pihak belum nampak. Masih banyak orang yang menganggap penanganan HIV AIDS ini hanya tugas KPAD. Sesungguhnya ini urusan kita semua, pemerintah, swasta, lembaga agama, tokoh adat. Pokoknya semua, termasuk masyarakat,“ tegas Hendik.
Hendik mengungkapkan, selama ini pihaknya terus gencar melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta kampanye layanan VCT terutama kepada kelompok beresiko.
Tujuannya agar mereka secara suka rela melakukan konseling dan tes HIV. Dengan demikian bisa ditangani secara dini jika telah mengidap HIV AIDS. Sementara kepada orang dengan HIV AIDS (ODHA) rutin diberikan retroviral serta pendampingan.
Lebih lanjut Hendik berharap, semua pemangku kepentingan dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam penanganan HIV di Kota Kediri. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni dengan memberikan pencerahan kepada warga yang belum paham tentang HIV. [nm/kun]
Berikut catatan data kasus HIV dari tahun ke tahun :
2003 = 2 kasus
2004 = 3 kasus
2005 = 3 kasus
2006 = 6 kasus
2007 = 10 kasus
2008 = 14 kasus
2009 = 33 kasus
2010 = 55 kasus
2011 = 62 kasus
2012 = 63 kasus
2013 = 128 kasus
2014 = 141 kasus
2015 = 134 kasus
2016 = 207 kasus
2017 = 200 kasus
2018 = 232 kasus
2019 = 243 kasus
2020 = 219 kasus
2021 = 219 kasus
2022 = 145 kasus






