Surabaya (beritajatim.com) – Flexing merupakan istilah dari pamer yang sudah menjadi fenomena baru khususnya di sosial media. Tidak sedikit dari netizen menyebut flexing adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh ‘orang kaya palsu’. Kategori orang yang biasanya cenderung suka pamer harta kekayaan.
Seorang pakar bisnis bernama Profesor Rhenald Kasali menyampaikan jika fenomena ini muncul karena adanya media sosial sehingga banyak orang terdorong untuk tampil dan mendapat pengakuan.
Selain itu, perilaku flexing dianggap sebagai sikap konsumtif terkesan berlebihan karena menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah dan layanan premium hanya untuk menunjukkan status atau kemampuan finansial.
Awalnya, kata flexing hanya digunakan di dunia binaraga yang berarti membuat otot para atlet binaraga semakin terlihat dengan pose-pose yang biasa diperagakan ketika kompetisi.
Jadi, flexing di dunia binaraga yaitu memamerkan otot. Sampai akhirnya istilah flexing mulai berkembang menjadi memamerkan hal lain yang mengarah pada kehidupan ekonomi atau kekayaan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Bukan hanya itu, flexing semakin terkenal karena sering digunakan di lagu hip hop. Tentu saja, para penyuka budaya hip hop, pasti tahu jika artis hip hop suka pamer kekayaan. Mulai dari perhiasan berukuran besar dalam jumlah banyak seperti kalung emas dengan berlian yang bertumpuk-tumpuk atau cincin berlian dengan ukuran super besar yang harganya sangat mahal.
Tapi, ternyata ada beberapa faktor penyebab seseorang melakukan flexing di media sosial. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan sisi psikologis mereka.
Ada penelitian yang menunjukkan saat seseorang merasa sedih atau rendah diri, maka mereka cenderung membeli barang-barang mewah. Bahkan, ada di dalam buku berjudul ‘Brainwashed’, penulis dan pakar pemasaran Martin Lindstrom menyampaikan jika anak-anak dengan kepercayaan diri rendah lebih mengandalkan memakai barang-barang high-end daripada rasa percaya diri yang tinggi.
Sedangkan dari Ratih Ibrahim MM, selaku Psikolog Klinis & CEO Personal Growth menyampaikan jika kebahagiaan yang sering dimaknai manusia biasanya berasal dari sesuatu yang sifatnya materialistik. Tapi itu bukanlah sumber kebahagiaan utama.
Sebenarnya, kebahagiaan yang sesungguhnya berasal dari cara mereka memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung, serta bersyukur dengan setiap hal dalam hidup.
Walaupun benar, kebahagiaan dapat datang darimana saja seperti prestasi akademis, kemapanan finansial, atau jabatan bahkan mendapatkan relasi sosial, hubungan baik dalam keluarga dan pertemanan. (prd/nap)






