Ponorogo (beritajatim.com) – Tak hanya mendorong siswanya untuk mengusai skill yang diajarkan, guru-guru di SMK Negeri 2 Ponorogo juga menunjukkan prestasinya.
Ya, memang prestasi yang didapat dari non akademik, namun itu pun sudah menjadi bukti bahwa sekolah yang berada di Jalan Yos Sudarso Kelurahan Kepatihan itu, tidak bisa dipandang sebelah mata. Baru-baru ini, guru-gurunya berhasil menyabet juara 1 dalam kompetisi senam kreasi. Kompetisi senam antar instansi se-Kabupaten Ponorogo digelar dalam rangka HUT ke-23 Dharmawanita.
“Alhamdulillah, tim senam dari SMKN 2 Ponorogo berhasil menjadi juara 1 dalam kompetisi senam antar instansi se-Kabupaten Ponorogo,” kata Kepala SMK Negeri 2 Ponorogo, Farida Hanim Handayani, Sabtu (12/11/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”ponorogo”]
Kompetisi senam kreasi ini diikuti dengan meriah oleh 24 tim senam perwakilan instansi SMA/SMK se-Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini dilakukan di Hall SMK Negeri 1 Jenangan Ponorogo. Kompetisi mendapatkan antusias luar biasa dari pesertanya. Terlihat dari penampilan dan aksesoris yang dikenakan sangat memikat dan menarik perhatian. Perfomance peserta pun juga sangat energik dan menunjukkan semangat. Seakan-akan mereka ingin dengan bersama-sama berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia.
“Tekad kami dari awal memang tidak hanya ikut berpartisipasi, namun juga bisa harus memperoleh prestasi. Alhamdulillah, diijabahi,” katanya.
Dengan mengusung kostum hitam dipadukan merah dan jarik hijau, tim SMK Negeri 2 Ponorogo menampilkan hasil terbaiknya selama 2 bulan latihan. Semangat lima anggota senam kreasi berhasil membuat hati juri tertarik dan tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Perjuangan guru-guru ini terbayar, setelah dewan juri memutuskan tim senam SMK Negeri 2 Ponorogo mendapatkan juara 1 dalam kompetisi ini.
“Alhamdulillah, latihan kita selama 2 bulan ini membuahkan hasil menjadi juara 1,” kata salah satu peserta senam SMK Negeri 2 Ponorogo, Nuring Dyah Rahayu.
Selama persiapan latihan itu, Nuring mengaku banyak kendala yang dialami para anggota senam. Ada yang sakit, ada yang mengikuti kegiatan pendidikan profesi guru (PPG) dan ada juga pergantian anggota senam.
Namun, kendala itu semua, tidak menyurutkan semangat tim senam dari sekolah tersebut. Gerakan senamnya pun tidak asal diciptakan begitu saja. Menurut Nuring setiap gerakan ada maknanya tersendiri. Tim senamnya, kata Nuring mengambil tema kearifan lokal. Dimana kearifan lokal itu diangkat dari elemen pada penguatan kurikulum merdeka. “Kostum dan gerakannya tidak asal. Kedua unsur itu saling berkolaborasi dengan budaya daerah khususnya Ponorogo,” pungkasnya. (end/kun)






