Surabaya (beritajatim.com) – Gerhana Bulan Total adalah fenomena astronomis ketika seluruh permukaan Bulan memasuki bayangan inti (umbra) Bumi.
Dijelaskan dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Hal ini disebabkan karena dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan. Gerhana bulan total terjadi saat posisi Bulan-Matahari-Bumi sejajar.
Gerhana Bulan Total terjadi ketika fase Bulan Purnama, akan tetapi, tidak semua fase Bulan Purnama dapat mengalami Gerhana Bulan. Hal ini dikarenakan orbit Bulan yang miring 5,1° terhadap ekliptika dan waktu yang ditempuh Bulan untuk kembali ke simpul yang sama lebih pendek 2,2 hari dibandingkan dengan waktu yang ditempuh Bulan agar berkonfigurasi dengan Bumi dan Matahari dalam satu garis lurus. Sehingga, Bulan tidak selalu berada di bidang ekliptika ketika Purnama.
[berita-terkait number=”5″ tag=”surabaya”]
Pada tahun 2022 terjadi dua kali gerhana Bulan pada Oktober dan November ini, serta dua kali gerhana Matahari pada April dan Mei 2022. Gerhana bulan pada 8 November 2022 adalah peristiwa gerhana pertama yang bisa dilihat di Indonesia pada tahun ini.
Berikut keterangan dari BMKG:
- Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 30 April 2022 yang tidak dapat diamati dari Indonesia
- Gerhana Bulan Total (GBT) 16 Mei 2022 yang tidak dapat diamati dari Indonesia
- Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 25 Oktober 2022 yang tidak dapat diamati dari Indonesia
- Gerhana Bulan Total (GBT) 8 November 2022 yang dapat diamati dari Indonesia.
Berikut 5 fakta gerhana bulan total yang harus kamu ketahui:
1. Bisa dilihat serempak di indonesia, durasi gerhana lebih dari 1 jam
Dilansir dari laman Pusat Sains Antariksa LAPAN, durasi gerhana dari fase gerhana mulai hingga gerhana berakhir adalah 5 jam 57 menit 5 detik. Namun ini adalah kalkulasi durasi fase gerhana sebagian hingga gerhana sebagian berakhir. Durasi totalitas gerhana bulan total 8 November 2022 ini akan berlangsung selama 1 jam 25 menit 44 detik.
Gerhana bulan total ini bisa dilihat secara serempak di Indonesia hingga negara tetangga, Timor Leste. Gerhana total akan dimulai pada daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi NTT, NTB, Bali, Kaltara, Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kapuas Hulu pada 18.16.39 WITA atau 19.16.39 WIT.
Kemudian puncak gerhana bisa dilihat di seluruh Indonesia kecuali Aceh, Sumut, Sumbar, dan Bengkulu pada 18.00.22 WIB, setara 19.00.22 WITA, atau 20.00.22 WIT. Lanjut pada sesi akhir gerhana bulan total dapat disaksikan seluruh Indonesia pada waktu 18.41.37 WIB, atau 19.41.37 WITA, atau 20.41.37 WIB.
2. Bisa Disaksikan dengan Mata Telanjang
Gerhana Bulan total dan hujan meteor yang terjadi pada November 2022 bisa disaksikan tanpa bantuan alat optik, cukup dengan mata saja. Namun, bisa juga diabadikan dengan merekam atau memotretnya menggunakan DSLR atau kamera all-sky dengan medan pandang 180 derajat.
3. Gerhana ke-20 Seri Saros
Lebar gerhana bulan total kali ini sebesar 1,3589 dengan jarak pusat umbra ke pusat Bulan sebesar 0,2570. Gerhana ini termasuk ke dalam gerhana ke-20 dari 72 gerhana dalam Seri Saros 136 (1680-2960).
Seri Saros ditetapkan sebab pada zaman dahulu, Bangsa Babilonia mencatat riwayat terjadinya gerhana dan menggunakan data ini untuk memprediksi gerhana. Karena itu, pada tahun 1691 Edmund Halley menamakan selisih waktu antara kejadian gerhana dengan istilah Babilonia, yaitu “Saros”.
Dilansir dari laman Edukasi Sains Antariksa BRIN, Seri Saros merupakan siklus gerhana dengan durasi rata-rata selama 18 tahun 11 hari 8 jam dengan terpaut 223 lunasi (siklus sinodis Bulan). Gerhana-gerhana dengan Siklus Saros diberi nomor urut sebagai alat identifikasi.
4. Bulan Nampak Berwarna Kemerahan
Saat Bulan memasuki umbra, warna umbra cenderung hitam. Seiring Bulan seluruhnya berada di dalam umbra, warna Bulan akan menjadi kemerahan. Hal ini dikarenakan oleh mekanisme Hamburan Rayleigh yang terjadi pada atmosfer Bumi. Sama seperti mekanisme ketika Matahari maupun Bulan tampak berwarna kemerahan saat berada di ufuk rendah dan langit, yang mempunyai rona jingga ketika Matahari terbit maupun terbenam.
5. Air Laut akan Pasang
Saat gerhana, tidak ada cahaya Matahari yang dapat dipantulkan oleh Bulan sebagaimana ketika fase Bulan Purnama. Gerhana dapat berwarna menjadi lebih kecoklatan bahkan hitam pekat jika partikel seperti debu vulkanik ikut menghamburkan cahaya.
Dampak dari Gerhana Bulan Total bagi kehidupan manusia adalah pasang naik air laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya ketika tidak terjadi gerhana, Purnama maupun Bulan Baru.
Sementara untuk waktu Gerhana Bulan Total yang dapat teramati di Indonesia satu dekade berikutnya akan terjadi pada 8 September 2025, 3 Maret 2026, Malam Tahun Baru 2029, 21 Desember 2029, 25 April 2032 dan 18 Oktober 2032. (eve/nap)






