Sampang (beritajatim.com) – Menikah dini dan bekerja jadi pemicu tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Terutama pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sampang, Ali Fandi mengungkapkan, data ini didapat dari laporan sejumlah kepala sekolah di Sampang. Mereka mengatakan ada sejumlah siswa di sekolahnya yang berhenti bersekolah dengan alasan menikah, bekerja, maupun pindah pondok.
Ali menyatakan angka putus sekolah di Sampang cukup tinggi. Berdasarkan data 2021 lalu, angka putus sekolah di Sampang mencapai 700 siswa.
Sementara di 2022, angka putus sekolah tercatat 562 siswa. Meski menurun, Ali menegaskan angka ini masih tergolomg tinggi.
“Tingginya angka putus sekolah ini berawal dari pandemi Coronavirus Disease (Covid) 2019 lalu, karena pada saat itu siswa diberlakukan belajar daring, sehingga sebagian wali murid tidak yakin ilmu yang diserap melalui belajar online itu maksimal, sehingga pilihanya masuk ke pondok atau berhenti,” kata Ali, Rabu (2/11/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”Sampang”]
Untuk mengantisipasi meningginya angka putus sekolah, pihaknya akan memaksimalkan implementasi pembelajaran Kurikulum Merdeka yang mengarah pada pengembangan potensi pelajar.
“Kami memaksimalkan pembelajaran teruma kurikulum mereka yang mulai diterapkan. Karena, kurikulum diarahkan pada potensi individu siswa supaya memiliki keahlian serta dapat bekerja sama dengan sekolah lain dan perusahan dengan melakukan magang,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, jumlah SMA Negeri ada 10, 7 jenjang SMK N, 2 SLB dan SMA swasta 74 lembaga, kemudian ada 79 tingkat SMK. [sar/beq]






