Jember (beritajatim.com) – Hujan lebat yang terjadi selama beberapa jam di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kemarin ternyata berdampak hingga hari ini, Rabu (26/10/2022). Dua rumah di Dusun Krajan, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, roboh pagi tadi.
Rumah yang roboh tersebut milik Bu May dan Bu Sami. “Kerugian material dua rumah itu diperkirakan sekitar Rp 40 juta, karena memang termasuk rumah yang harus dapat perhatian pemerintah,” kata David Handoko Seto, anggota Komisi B DPRD Jember dan Ketua Barisan Reaksi Cepat Nasional Demokrat (Bared).
David sudah menginformasikan hal itu ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jember untuk ditangani darurat bersama warga dan Bared Rescue. “Teman-teman sudah mengirimkan bantuan untuk warga yang tertimpa musibah untuk keperluan hidup dua tiga hari ke depan seperti sembako,” katanya.
David meminta kepada pemerintah daerah agar mengupayakan pendirian rumah korban. “Hari ini mereka numpang ke tetangga,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto sudah mengingatkan agar warga waspada. Selain tanah longsor, banjir juga selalu terjadi setiap musim hujan. “Awal 2022, saya sudah menyampaikan ke Bu Gubernur, bahwa di Jember belum ada proteksi bila terjadi banjir besar di daerah utara. Proteksi dan perbaikan alur sungai masih belum ada,” katanya.
Sejumlah sungai di Jember mengalami pendangkalan atau sedimentasi. “Belum dilakukan pengerukan, karena membutuhkan biaya besar. Tapi adsa treatment lain: perbaikan-perbaikan bendung sudah kami lakukan,” kata Hendy.
[berita-terkait number=”3″ tag=”rumah-roboh”]
David mengatakan, penanganan sungai memang tak bisa hanya dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember. “Harus ada keterlibatan Balai Besar Wilayah Sungai yang itu menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan jadi tanggung jawab pusat. Bencana hari ini tidak bisa dibayangkan tapi sudah bisa diprediksi,” katanya.
Relawan diharapkan sudah siap memberikan bantuan ketika bencana terjadi tanpa menunggu pemerintah. “Dengan begitu masyarakat merasa terlindungi dan menjadi tenang,” kata David. [wir/suf]






