Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda melaporkan prakiraan cuaca di wilayah Jawa Timur (Jatim) selama seminggu pada tanggal 24-30 Oktober 2022.
Dikutip dari Twitter @infobmkgjuanda, dalam minggu ini Jatim berpotensi hujan ringan hingga lebat dan disertai petir yang cenderung terjadi pada siang-sore hari.
“Waspada terhadap potensi peningkatan kecepatan angin yang juga cenderung terjadi di siang-sore hari,” demikian bunyi keterangan tertulis BMKG Juanda.
Berikut ini prospek cuaca selama seminggu di Jawa Timur :
- Senin (24/10/2022) : secara umum hujan ringan dan berpeluang hujan lebat disertai petir dan angin
- Selasa (25/10/2022) : secara umum hujan ringan dan berpeluang hujan lebat disertai petir dan angin
- Rabu (26/10/2022) : secara umum hujan ringan dan berpeluang hujan lebat disertai petir dan angin
- Kamis (27/10/2022) : secara umum cerah berawan dan berpeluang hujan lebat disertai petir dan angin
- Jumat (28/10/2022) : secara umum cerah berawan dan berpeluang hujan lebat disertai petir dan angin
- Sabtu (29/10/2022) : secara umum cerah dan berpeluang hujan ringan
- Minggu (30/10/2022) : secara umum cerah dan berpeluang hujan ringan
[berita-terkait number=”5″ tag=”bmkg”]
Dinamika Atmosffer
BMKG memprediksi anomali OLR secara spasial pada tanggal 23-30 Oktober 2022 menunjukkan adanya gangguan gelombang atmosfer Equatorial Rossby di Wilayah Jawa Timur pada tanggal 24 Oktober 2022 dan adanya gelombang atmosfer Kelvin pada tanggal 25-28 Oktober 2022. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan awan hujan di Jawa Timur.
“Prakiraan untuk sepekan ke depan menunjukkan kondisi MJO berada di kuadran 6 (Western Pacific), yang berarti tidak berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Jawa Timur,” ungkap BMKG dalam keterangan tertulis.
Secara umum, anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian timur didominasi anomali negatif.
Anomali SST di wilayah Nino 3.4 menunjukkan kondisi La Nina lemah. Cukup signifikan terhadap pertumbuhan awan di wilayah Jatim.
Anomali suhu muka laut di Samuder Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean DDipole (IOD) negatif. Hal itu kurang signifikan terhadap pertumbuhan awan di wilayah Jatim.
Selanjutnya, anomali suhu muka laut secara umum menujukkan nilai positif (+0.5 s/dd +2.5 derajat Celcius) terjadi di Perairan Jatim. Hal ini cukup berkontribusi terhadap penambahan massa uap air di wilayah Jatim.
Sementara itu, kondisi angin pada lapisan 3000 FT di Jatim secara umum bertiup dari Barat Daya. Hal ini menunjukkan adanya pola konvergensi serta perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas dan pertumbuhan awan hujan. (nap)






