Surabaya (beritajatim.com) – Fraksi Gerindra DPRD Jatim mendesak Kemenkes RI dan Dinkes Jatim mengambil langkah taktis mengantisipasi agar gangguan gagal ginjal akut misterius yang menyerang balita di Indonesia, khususnya Jatim tidak meluas.
“Itu yang terdeteksi, belum yang tidak terdeteksi. Ini jauh berdampak dibandingkan Covid-19 dan penyakit mulut kuku (PMK) pada hewan. Kalau Covid-19 rata-rata menyerang dewasa dan lansia. PMK menyerang hewan ternak. Kalau gagal ginjal akut misterius ini menyerang anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa masa depan. Sehingga, dampaknya bukan hanya sekarang, tapi sistemik jangka panjang,” kata Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jatim, Muhammad Fawait (Gus Fawait) kepada beritajatim.com, Kamis (20/10/2022) malam.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gagal-ginjal”]
Gus Fawait meminta sejumlah pihak terkait duduk bersama, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kemenkes dan Dinkes seluruh Indonesia untuk mengambil tindakan konkret. “Generasi penerus bangsa yang berkualitas harus diselamatkan. Ayo segera duduk bersama dan segera koordinasi. Jangan sampai muncul korban balita lebih banyak lagi. Generasi masa depan bisa terselamatkan. Ini harus lebih cepat dibandingkan langkah penanganan krisis ekonomi dan darurat PMK. Kami akan memperjuangkan anggaran penanganan masalah ini,” tegas Presiden Laskar Sholawat Nusantara (LSN) ini.
Fraksi Gerindra, lanjut Bendahara GP Ansor Jatim, ini akan berjuang di garda terdepan menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. “Jangan sampai masyarakat, khususnya kaum emak-emak yang memiliki anak balita mengalami kebingungan terkait obat mana yang boleh diminum, mana yang tidak boleh. Pemerintah harus sigap,” tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, belasan balita di Jatim dikabarkan meninggal dunia akibat gangguan gagal ginjal akut misterius. Total saat ini ada sekitar 13 balita yang terkonfirmasi meninggal.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim dr Sjamsul Arief MARS SpA(K) menyebut, terdapat 13 balita yang meninggal akibat gangguan gagal ginjal akut misterius. Paling banyak ada di Surabaya, yakni 10 anak. Kemudian Malang tiga anak. “Yang meninggal 10 di Surabaya, tiga di Malang (anak yang meninggal akibat gangguan gagal ginjal akut misterius di Jatim),” kata dr Sjamsul, Kamis (20/10/2022).
Ia mengungkapkan, 13 balita yang meninggal berusia kisaran 1 hingga 5 tahun. Namun, untuk data usia persis, dirinya tidak bisa menyampaikan, karena hanya ada di RSU dr Soetomo Surabaya dan RSUD Saiful Anwar Malang.
Seperti diketahui, bahwa sebelumnya ada 24 kasus gangguan gagal ginjal akut misterius di Jatim. Dan, 15 di antaranya di Surabaya dan sembilan lainnya di Malang. Namun, dr Sjamsul tidak dapat memastikan apakah 24 anak tersebut merupakan warga Surabaya dan Malang saja. Tetapi kemungkinan adalah pasien rujukan dari daerah lain.
“Tidak tahu, itu data dari RSU dr Soetomo dan RSUD Saiful Anwar. Karena dua RS tersebut yang bisa melakukan hemodialisa (terapi cuci darah), mungkin rujukan dari kabupaten-kota lain,” ungkapnya. (tok/kun)






