Surabaya (beritajatim.com) – Sebuah ledakan dari dalam tambang batu bara di wilayah Laut Utara Hitam Turki Kota Pelabuhan Amasra telah menewaskan sedikitnya 41 orang, dari total 110 penambang yang berada di lokasi penambangan.
Laporan media The Guardian menyebutkan, upaya penyelamatan berlangsung berjam-jam untuk memadamkan api di dalam tambang pada Sabtu (15/10).
Presiden Recep Tayyip Erdogan, bahkan membatalkan rencana perjalanannya ke Provinsi Diyarbakir untuk mengunjungi lokasi kejadian di Amasra. Dari laporan Sang Presiden, operasi penyelamatan telah selesai pada Sabtu sore.
Rekaman televisi Turki memperlihatkan kumpulan asap putih pekat mengepul dari pintu masuk tambang di atas lereng gunung. The Guardian menyebut, seorang reporter yang berada di lokasi mengatakan, bahwa lebih dari 12 jam setelah kejadian api di bawah tambang masih aktif.
Sementara, Menteri Dalam Negeri, Suleyman Soylu yang mengawasi upaya penyelamatan mengatakan, dari 110 penambang yang berada di lokasi, 49 orang terperangkap di area tambang. Insiden yang menewaskan puluhan nyawa ini, bukan kali pertama dialami oleh fasilitas yang dikelola oleh negara.
[berita-terkait number=”5″ tag=”turki”]
Kejadian kecelakaan di area Pertambangan ini, tentu mengingatkan masyarakat Turki akan 2 kasus bencana pertambangan besar di Turki tahun 2014 silam. Dimana terjadi kebakaran tambang di Kota Soma yang dicatat sebagai kecelakaan tambang terburuk di Turki. Dalam kejadian itu, 301 penambang meninggal karena keracunan karbon monoksida. Dan 162 lainnya mengalami luka-luka.
Masih di tahun yang sama, kecelakaan pertambangan lagi-lagi menelan korban. 18 orang dinyatakan meninggal pada kejadian kedua tahun 2014. Atas catatan buruk pertambangan di Turki itu, masyarakt mulai geram dan menilai Pemerintah lalai dalam melakukan pencegahan keselamatan di area pertambangan.
Bahkan, saat itu jaksa menyatakan 2 kejadian kecelakaan tambang di tahun 2014, sebenarnya bisa dicegah. Namun, perusahaan tambang telah mengabaikan peringatan-peringatan yang jelas. Terkait adanya peningkatan gas berbahaya, yang memicu meningkatnya panas di dalam tambang.
Kepala salah-satu serikat pertambangan Turki yang dilaporkan The Guardian, mengatakan kepada outlet berita lokal bahwa, meningkatkan langkah-langkah keamanan setelah bencana tidaklah cukup.
“Yang penting adalah menghargai mereka saat masih hidup”, katanya merujuk pada dua bencana pertambangan di Turki tahun 2014.“Ada ranjau di seluruh dunia, tetapi bencana ini selalu terjadi di tambang Turki”, tutupnya. (Jhn/nap)






