Surabaya (beritajatim.com) – Memiliki penampilan menarik tentunya idaman bagi semua orang. Akan tetapi, tak sedikit yang merasakan kekhawatiran jika harus melalui tahapan operasi plastik.
Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Head of Aesthetic Surgery NMW Group, dr. Bambang Wicaksono berpendapat, secara prinsip seluruh manusia merupakan potensi pasar bedah plastik.
Dengan tren saat ini, kata dia, banyak pasien yang suka perawatan wajah selalu ingin tampil lebih baik. Terutama di kota-kota besar seperti Surabaya.
“Kami ingin memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat, bagaimana menjadi cantik atau tampan yang baik dan benar serta legal,” kata Bambang.
Bambang pun memberikan sejumlah saran untuk tampil menarik dengan operasi plastik. Pertama, memastikan kompetensi dari dokter yang menangani.
Seorang dokter umum tidak boleh melakukan tindakan yang melebihi kemampuannya. Apapun itu alasannya, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Yang pertama bisa dicek keabsahannya. Karena harus berhati hati, membuat sesuatu yang lebih baik dari sisi legalitas, di tengah banyak yang tidak legal,” tuturnya.
Selain itu, seluruh prosedur operasi rata rata memakan waktu 7 sampai 10 hari. Mengingat, ada beberapa jenis operasi yang tidak bisa dikerjakan sendiri oleh seorang dokter bedah yang berkaitan dengan lama operasi, tingkat kerumitan, dan kemampuan khusus
“Kalau sampai melibatkan pemotongan tulang bisa menghabiskan waktu yang lama. Bahkan pasien juga harus diet lunak dan diet cair selama beberapa minggu,” ujarnya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”surabaya”]
“Sebelum melakukan operasi bedah plastik, terlebih dahulu analisa atau asesmen, lalu CT Scan dan hasilnya dicetak berupa tiga dimensi, hingga dibuatkan manipulasi,” imbuhnya.
Bambang juga mengungkapkan, mayoritas pasien yang dia tangani mengajukan operasi plastik hidung dan mata. Kemudian Operasi Estetik mengubah struktur tulang wajah.
“Seperti memajukan posisi rahang atas, mengundurkan rahang bawah, menaikkan hidung,” terangnya.
Karena tingginya tingkat risiko, kata Bambang, sebagian besar orang memilih untuk menjalani perawatan di luar negeri. “Karena berawal dari seseorang yang tidak ada keinginan untuk operasi plastik, ketika melihat secara finansial cukup akhirnya mau operasi,” tutupnya. [way/beq]






