Jember (beritajatim.com) – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Siswono, menolak pendirian pabrik pupuk organik. Dia menilai produksi pupuk organik sebaiknya diserahkan kepada kelompok tani.
“Komisi B sudah menyarankan agar produksi pupuk organik betul-betul dilakukan di masing-masing desa. Tidak hanya tersentral di satu titik, apalagi di wilayah selatan. Bagaimana dengan wilayah timur, utara, dan barat yang berbatasan dengan kabupaten lain, kalau pupuk organik tersentral di satu titik,” kata Siswono, ditulis Kamis (13/10/2022).
Siswono mengingatkan, bahan pupuk organik ada di semua desa. Sehingga dia mendorong Pemkab Jember lebih memberdayakan petani.
“Oleh karenanya, kalau Pemkab Jember ingin menggulirkan (produksi) pupuk organik, ya harus melalui gabungan kelompok tani di masing-masing desa,” katanya.
Dengan demikian petani akan mau memakai pupuk organik produksi sendiri. Keberadaan pabrik tidak diperlukan.
“Jadi sebenarnya tidak perlu pabrik. Bagaimana produk itu berada dalam skala kecil tapi fungsinya terasa dan dimanfaatkan langsung petani,” kata Siswono.
Secara umum, Siswono menghendaki agar Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember, Jawa Timur 2023 mengalokasikan anggaran lebih besar untuk sektor pertanian. “Pemkab Jember semestinya memberikan support skala prioritas,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan membangun pabrik pupuk organik dengan anggaran kurang lebih Rp5 miliar di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, pada 2023. Ini bagian dari penguatan penggunaan pupuk organik di kalangan petani.
Anggaran Rp5 miliar itu terbagi dua. Rp4 miliar untuk pembangunan gedung dan Rp 1 miliar untuk pengadaan alat dan mesin.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Jember”]
“Kami sudah siapkan. Mudah-mudahan pada awal 2023 sudah bisa start pembangunannya,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember Imam Sudarmaji, ditulis Kamis (29/9/2022).
Pabrik dibangun di satu lokasi dulu. “Kalau pupuk organik betul-betul bisa dirasakan manfaatnya dan kebutuhan kurang, mungkin bisa ditingkatkan. Harapan kami itu sebagai awal. Harapannya di masing-masing kecamatan bisa berdiri pabrik-pabrik sesuai kondisi dan pupuk yang sudah dihasilkan petani,” kata Imam.
Ada 1.723 kelompok tani di Jember. Namun Imam belum bisa memastikan ada berapa kelompok tani yang sudah mulai intensif menggunakan pupuk organik. Sebagian sudah mulai mengombinasikan pupuk organik dan kimia.
“Ternyata dipadukan 50-50, hasilnya meningkat. Biasanya dia menghasilkan kurang lebih 6 ton per hektare, tapi ternyata dari hasil demoplot meningkat menjadi 8 ton per hektare. Ada juga petani yang mencoba (kombinasi pupuk kimia dan) pupuk organik di tembakau kasturi, dalam usia pertumbuhan 20 hari sudah berbeda dengan penggunaan pupuk kimia (murni). Tembakaunya lebih lebar dan tebal,” kata Imam. [wir/beq]






