Surabaya (beritajatim.com) – Dua Mahasiswa Universitas Dinamika (Undika) Surabaya Muhammad Rifki Pratama Nautica dan Akbar Mahardi Hidayatullah menciptakan sarana pembelajaran dan deteksi simbol SIBI berbasis Artificial Intelligence (AI).
Rifki membuat sebuah program berbasis Deep Learning bernama Hand Gesture Detection. Program yang diperuntukkan bagi anak usia dini ini dibuat agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif namun tetap dengan cara yang menyenangkan.
“Idenya itu karena saat pandemi saya melihat adik saya yang berusia PAUD mengalami learning lost dimana materi yang disampaikan guru secara daring kurang tersampaikan dengan menarik,” ujar Rifki, Selasa (11/10/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”penelitian-mahasiswa”]
Melalui Program Hand Gesture Detection ini, kata dia, para pengguna yang targetnya adalah anak-anak usia dini dapat mengetahui jumlah angka secara real time dengan hanya memperlihatkan jari di layar kaca laptop. “Scriptnya sudah tersedia dan tinggal diinstall di laptop saja,” terangnya.
Ia menjelaskan, bahwa pengguna yang ingin mencoba program ini harus menyiapkan webcam pada perangkat laptop atau PC serta meng-install program bernama Jupiter terlebih dahulu.
“Nanti setelah terinstall maka pengguna tinggal mengarahkan jari ke webcam maka secara langsung akan muncul land mark atau kerangka tangan untuk ditentukan oleh komputer berapa jari yang terlihat. Jumlah jari yang terhitung oleh program tersebut adalah jari yang terdeteksi tegak oleh perangkat yang digunakan,” ungkapnya.
Sementara Akbar Mahardi membuat inovasi serupa namun dikemas dengan konsep yang sedikit berbeda. Akbar membuat sebuah program untuk bisa membaca bahasa isyarat melalui aplikasi Sistem Deteksi Simbol SIBI.
Melalui aplikasi ini, penyandang tunarungu dan tunawicara bisa menyampaikan pesan kepada orang lain melalui gerak tangan yang ditampilkan dan diterjemahkan dalam aplikasi. “Di aplikasi ini ada enam kata yang sudah saya setting yaitu aku, kamu, dia, cinta, maaf dan sedih,” jelasnya.
Berawal dari ketertarikannya di mata kuliah Sistem Cerdas dan juga melihat penelitian kakak tingkat sebelumnya, ia tertarik untuk mengembangkan aplikasi ini. Bedanya, pada penelitian sebelumnya menggunakan metode klasifikasi image yaitu menggunakan media gambar lalu di proses ke aplikasi baru keluar arti gerakan tangannya.
“Sedangkan punya saya pakai metode deteksi objek secara real time, jadi dari live kamera bisa langsung muncul arti dari gerakan tangannya,” tutur Akbar menjelaskan kelebihan aplikasi buatannya.
Meskipun begitu, ia menuturkan masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki diantaranya adalah kurangnya fokus yang ditangkap oleh komputer saat latar belakang pengguna ramai obyek sehingga tidak dapat mengidentifikasi gerak bahasa isyarat. “Ya semoga nanti adik tingkat ada yang mau meneruskan dan mengembangkan agar kekurangan ini bisa diminimalisir,” pesannya. [ipl/suf]







