Jember (beritajatim.com) – Tim sepak bola amputasi Indonesia bangkit dari kekalahan berturut-turut dalam Piala Dunia Sepak Bola Amputasi di Turki, medio Oktober 2022. Setelah menelan empat kekalahan, Indonesia mengalahkan Jerman 2-0 dalam perebutan peringkat dunia.
Setelah dikalahkan Argentina 0-3, Inggris 0-3, dan Amerika Serikat 0-5 dalam penyisihan Grup C, Indonesia dikalahkan 0-1 oleh Prancis dalam perebutan peringkat dunia di TFF Riva Nr.2A, Rabu (5/10/2022). Kemenangan perdana Indonesia dituai atas Jerman di TFF Riva Nr.3A, Jumat (7/10/2022). Dua gol Indonesia dicetak Agung Rizki Satria pada menit 9 dan Aditya pada menit 20.
Dalam pertandingan melawan Prancis, menurut pelatih Indonesia Bayu Guntoro, sebenarnya pertandingan berjalan seimbang. “Kami bermain bagus. Cuma ada kelengahan tim kami yang bisa dimanfaatkan Prancis menjadi gol,” katanya.
Bayu mengakui pengorganisasian pertahanan Indonesia terlambat, sehingga bisa dimanfaatkan Jonathan Caille untuk mencetak gol pada menit 45. “Kami telat menutup bola. Tapi secara keseluruhan tim kami bermain bagus,” katanya.
Rixhi Saputra, Direktur Teknik Tim Indonesia, menyebut pemain tidak berfokus pada menit-menit jelang babak kedua selesai. “Pemain kami tak berfokus menjaga pemain lawan dan lebih berfokus melihat arah bola. Itu membuat kami kalah dari Prancis. Kalau dari aspek permainan, tidak jauh berbeda sebenarnya,” katanya.
Kekalahan ini kemudian dievaluasi tim pelatih untuk menghadapi Jerman. Sebagaimana Indonesia di Grup C, Jerman adalah juru kunci di Grup B. Sepanjang turnamen mereka kalah 0-3 dari Jepang, 1-5 dari Meksiko, dan 0-3 dari Kolombia dalam penyisihan Grup B, serta kalah 0-4 dari Irak dalam babak penentuan peringkat dunia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sepak-bola-amputasi”]
Hasilnya Indonesia meraih kemenangan perdana. “Kami bisa memaksimalkan peluang dan mendominasi permainan. Kami belajar dari pertandingan sebelumnya dalam organisasi bertahan dan menyerang. Kami bisa memanfaatkan kelemahan tim lawan,” kata Bayu.
Rixhi menyebut timnas Indonesia terlambat panas. “Dalam beberapa pertandingan mereka merasa grogi. Tapi saat melawan Jerman mereka sudah mulai bisa bermain lepas. Transisi antarpemain dari lini ke lini bisa berjalan baik,” katanya.
Namin Rixhi mengakui Prancis lebih kuat daripada Jerman. Sepak bola.amputasi di Prancis lebih lama ada daripada Jerman. [wir/suf]






