Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menciptakan tempat penjemuran vertikal multifungsi sebagai solusi terbaru dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produk olahan laut nelayan di pantai Kenjeran, Surabaya.
Dosen Program Studi Arsitektur Untag sekaligus Ketua Tim, Febby Rahmatullah Masruchin mengatakan jika idenya itu berawal saat dirinya melihat banyak masyarakat yang menjemur produk hasil olahan laut di tepi jalan.
“Mengakibatkan dua permasalahan yaitu mengganggu sirkulasi kendaraan dan produk yang dijemur tersebut dapat berpotensi terkena debu dan asap kendaraan bermotor,” ungkap Febby, Jumat (7/10/2022).
Febby menerangkan, desain tempat yang dibuatnya itu memiliki lima tingkat, sehingga masyarakat dapat meningkatkan produksi atau penjemuran hingga lima kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Kami selaku pengabdi berharap dengan alat sederhana ini dapat merubah pola perilaku masyarakat yang biasanya menjemur di tepi jalan menjadi merawat keindahan jalan dengan tidak melakukan penjemuran di tepi jalan. Hal ini juga dapat mempengaruhi citra Kota Surabaya karena area ini masuk ke dalam area Wisata Pantai Kenjeran Surabaya” tuturnya.
Sementara Aisyah Fujiati Mahfiro, pemilik UMK menjelaskan bahwa masyarakat di perkampungannya memiliki keterbatasan tempat untuk melakukan penjemuran.
“Alhamdulillah kami sekeluarga menyambut baik program ini dan kami berencana membangun tempat produksi dan gudang di samping tempat penjemuran agar proses produksi berjalan maksimal,” ungkap Aisyah.
Dia juga menjelaskan, alat pengeringan vertikal tersebut sangat praktis sebab ketika terjadi hujan dapat langsung ditutup menggunakan penutup atas dan samping, sehingga tidak perlu bolak-balik mengangkat.
Sebagai informasi, selain Febby, program ini juga berkolaborasi dengan dua program studi lain yaitu Program Studi Manajemen diwakili Ratnaningsih Sri Yustini dan Program Studi Teknik Informatika diwakili Naufal Abdillah. Dua Mahasiswa dari Program Studi Arsitektur yaitu Natanael Dirgantara Putra Yuwono dan Adi Prayogo juga dilibatkan dalam program ini.
Sementara kegiatan ini, nantinya juga akan dikonversi ke beberapa Mata Kuliah dalam Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Di sisi lain, kegiatan ini juga mendapatkan dukungan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya. (ipl/ted)






