Surabaya (beritajatim.com) – Ancaman resesi masih terus menghantui dunia. Di awal bulan Oktober, beberapa badan keuangan sudah memberikan pernyataan dan rencana mereka untuk menghadapi kemungkinan resesi selama satu bulan ini.
PBB memperingatkan dunia mengenai resiko resesi global pada hari Senin (3/10), yang disebabkan oleh kebijakan moneter. Kebijakan ini tentu berdampak pada konsekuensi serius bagi negara-negara berkembang dan menyerukan strategi baru.
Melansir Reuters, PBB melakukan konferensi mengenai perdagangan dan pembangunan (UNCTAD). Dalam konferensi itu, mereka juga memberikan pernyataan tertulis yang dirilis bersamaan dengan laporan tahunan, “Pengetatan moneter yang berlebihan dapat mengantarkan periode stagnasi dan ketidakstabilan ekonomi.”
PBB melaporkan bahwa suku bunga yang lebih tinggi, termasuk kenaikan oleh Federal Reserve AS, akan berdampak lebih parah pada negara-negara berkembang, yang sudah memiliki tingkat utang swasta dan publik yang tinggi.
“Setiap keyakinan bahwa mereka (bank sentral) akan mampu menurunkan harga dengan mengandalkan suku bunga yang lebih tinggi tanpa menghasilkan resesi, menurut laporan itu, merupakan pertaruhan yang tidak bijaksana,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ekonomi”]
Laporan yang berjudul “Prospek pembangunan di dunia yang retak” ini juga memperingatkan adanya potensi krisis utang di negara berkembang.
“Tindakan saat ini merugikan orang-orang yang rentan di mana-mana, terutama di negara berkembang. Kita harus mengubah arah,” kata Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan dalam konferensi pers di Jenewa.
Cara menurunkan Inflasi
Saat ditanya mengenai cara menurunkan Inflasi saat konferensi pers, Rebeca menyarankan kepada negara-negara dunia untuk mengembangkan potensi pajak penghasilan perusahaan, perluasan komoditas dan kebijakan untuk mengatasi kemacetan sisi penawaran.
“Jika Anda hanya ingin menggunakan satu instrumen untuk menurunkan inflasi, satu-satunya kemungkinan adalah dengan membawa dunia ke perlambatan yang akan berakhir dalam resesi,” katanya.
Secara keseluruhan, UNCTAD menurunkan proyeksi target pertumbuhan ekonomi global 2022 menjadi 2,5% dari perkiraan sebelumnya 2,6% dalam penilaian Maret. Artinya pertumbuhan ekonomi diprediksi naik 2,2% pada tahun 2023.
Dana Moneter Internasional juga memperingatkan bulan lalu bahwa beberapa negara mungkin tergelincir ke dalam resesi tahun depan dan merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih lambat dari perkiraan awal.
Langkah Bank Indonesia dalam menanggapi ancaman resesi
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) ikut menaikkan suku bunganya BI Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps pada bulan September menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5%.
Keputusan menaikkan suku bunga tersebut, menurut BI tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking ekonomi Indonesia kedepan.
Kepala Departemen Kebijakan dan Moneter BI Solikin M Juhro mengatakan langkah menaikkan suku bunga ini diharapkan bisa menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi fundamental kembali ke sasaran 3±1% di paruh kedua tahun 2023. Selain itu, menaikkan suku bunga bertujuan untuk mendukung dan memperkuat stabilitas nilai rupiah di tengah ekonomi Indonesia yang tumbuh dengan baik. (Kai/nap)






