Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan suporter dari klub sepakbola berbeda-beda di Mojokerto Raya menyampaikan tiga aspirasi kepada pemerintah untuk sepakbola di Indonesia lebih baik.
Hal tersebut disampaikan saat doa bersama yang digelar di depan Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto tersebut.
Aksi tersebut diinisiasi Ultras Garuda Indonesia Mojokerto yakni pendukung setia Timnas Indonesia dari Bumi Majapahit.
Ratusan suporter ini datang dari suporter klub sepakbola berbeda-beda, dari MP Loyalis’01 (suporter PSMP) Curva Sud (suporter PSMP), The Jakmania (suporter Persija), Viking (suporter Persib), Bonek (suporter Persebaya), serta Aremania (suporter Arema FC).
Aksi yang digelar untuk Tragedi Kanjuruan tersebut mengusung tagline ‘Doa Bersama Sepak Bola Indonesia’. Ratusan suporter tersebut menanggalkan atribut masing-masing dan menyalahkan lilin serta doa bersama. Puluhan anggota Polres Mojokerto Kota dan TNI diterjunkan mengawal aksi doa bersama ratusan suporter tersebut.
Petugas menutup separuh Jalan Gajah Mada selama acara berlangsung. Doa bersama dimulai dengan menyalakan lilin sebagai tanda duka cita dan keprihatinan terhadap Tragedi Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) pekan lalu. Mereka juga menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Indonesia Raya dan disusul mars masing-masing suporter.
Acara dilanjutkan orasi dari perwakilan masing-masing suporter klub sepak bola secara berganti. Acara ditutup dengan doa bersama akan para korban Tragedi Kanjuruhan. Doa bersama berlangsung khidmat dan tertib, Kapolresta Mojokerto AKBP Wiwit Adisatria turun langsung mengawal aksi doa bersama tersebut.
“Saya ingin memberikan kesempatan dengan mengawal dan mendampingi kegiatan teman-teman suporter melaksanakan doa bersama dengan menyalakan lilin sebagai bentuk kepedulian antar elemen suporter terhadap korban tragedi Kanjuruhan,” ungkap Kapolresta Mojokerto, AKBP Wiwit Adisatria, Senin (3/10/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
Doa bersama tak hanya digelar untuk mendoakan korban Tragedi Kanjuruan, namun lanjut Firman, doa bersama untuk kebaikan sepakbola Indonesia pasca Tragedi Kanjuruhan. Sehingga Ultra Garuda Indonesia di berbagai kota juga menggelar aksi serupa. Aksi tersebut digelar juga untuk menghapus stigma jika suporter bola tidak selalu berperilaku anarkis.
“Kita ingin menunjukkan ke publik jika suporter tidak searogan itu, kita bisa guyuo rukun kok di Mojokerto ini. Biar mereka bisa menyampaikan aspirasi mereka (orasi dari perwakilan masing-masing suporter klub sepak bola secara berganti, red). Dengan kita mengundang mereka, kita memberi ruang kepada mereka untuk argumen demi kebaikan sepakbola Indonesia,” ujarnya.
Sesuai dengan tagline ‘Doa Bersama Sepak Bola Indonesia’, pasca Tragedi Kanjuruhan semua terpukul sehingga dibutuhkan doa dan harapan dari masing-masing elemen suporter yang hadir. Ada tiga aspirasi yang disampaikan Ultras Garuda Indonesia di Mojokerto kepada pemerintah. Pertama, mereka meminta Tragedi Kanjuruhan yang menelan 125 korban jiwa diusut sampai tuntas.
“Kedua, pemerintah harus mengevaluasi total panpel, PSSI dan kinerja aparat keamanan untuk mencegah tragedi serupa terulang. Ketiga, kami juga meminta segera hentikan pertandingan malam karena berbahaya sekali untuk anak-anak dan perempuan, serta tidak nyaman untuk para pendukung. Kami sudah protes tapi PSSI mengabaikannya, dari hasil kajian kami, mereka mengutamakan prime time penyiaran,” tegasnya. [tin/ted]







