Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama sejumlah pihak membentuk konsorsium pengembangan varietas unggul sorgum. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
Kepala Pusat Penelitian Material Maju dan Teknologi Nano ITS Dr Agung Purniawan menjelaskan, konsorsium ini terbentuk dengan melihat peluang terhadap sorgum sebagai bahan yang dapat digunakan menjadi pengganti tepung gandum. “Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada produksi luar negeri serta dipicu pula adanya peperangan antara Rusia dan Ukraina yang berdampak pada stok gandum dunia,” ungkap Agung, Rabu (21/9/2022).
Melihat hal tersebut dan tagline sorgum yaitu 3F (Food, Feed and Fuel), menurut Agung, biji sorgum bisa dipakai untuk pangan dan bagian batang bisa sebagai pakan ternak serta biofuel. Tak hanya itu, berdasarkan roadmap sorgum 2022-2024, target produksi pada tahun 2023 juga sebesar 444.084 ton, sehingga diperlukan benih sorgum unggulan dalam jumlah besar.
Mengingat pentingnya komoditi tersebut, ITS dan konsorsium ini diyakini Agung tidak hanya mendukung target roadmap, tetapi juga menyediakan sorgum yang diharapkan memenuhi cita rasa masyarakat. ITS pastinya akan mengembangkan sains dan teknologi untuk berkontribusi mewujudkan program ini dengan membuat sorgum berkualitas dengan pengembangan varietas unggul.
Sementara itu, dari sisi Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) ITS tentunya mendukung penuh penelitian ini untuk menghasilkan sorgum dengan varietas unggul yang bermanfaat untuk masyarakat. “Dukungan ini akan dilakukan baik dalam skema penelitian ataupun pengabdian kepada masyarakat melalui beberapa kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN),” ujarnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sorgum”]
Prof Riyanarto Sarno, salah satu peneliti dari ITS menambahkan, bahwa untuk mendukung pertumbuhan sorgum secara optimal, tim konsorsium juga akan mengembangkan ITS Smart Farming dengan teknologi berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini dibuat agar dapat membantu pemantauan pertumbuhan sekaligus lingkungan penanaman sorgum secara realtime, wherever dan whenever.
Dengan adanya teknologi dari ITS Smart Farming, Riyan menjelaskan bahwa pemantauan bisa dilakukan dari luar lokasi penanaman, sehingga monitoring bisa dilakukan secara leluasa. “Varietas dengan berbagai kelebihan dipadu lingkungan dan teknologi yang optimal akan menghasilkan sorgum unggul dan berkualitas tinggi,” ujarnya.
Senada dengan Agung, adanya berbagai program yang telah dicantumkan, anggota konsorsium berharap penuh bahwa ke depannya kegiatan ini akan berkontribusi dalam ranah sorgum untuk biofuel juga. “Harapannya tidak hanya 5 ton per hektare, tetapi bisa 8 ton per hektare dengan tekstur sorgum yang lebih pulen,” tandas Riyan. [ipl/suf]






