Puluhan anak dan remaja, yang sebelumnya bergiliran tampil menari, mereka kembali ke atas panggung. Sebagian lagi di depan panggung, yaitu lantai bawah sejajar dengan pengunjung. Serempak mereka bersama menari. Tarian dengan gerakan-gerakan sederhana, dance.
Ratusan pengunjung di lapangan parkir MPP (Mal Pelayanan Publik), Lingkar Timur, Sidoarjo, Sabtu (10 September 2022), pun dibuat terkesima. Tidak sedikit dari mereka yang lantas turut menggerakkan badan. Sebagian lalu berdiri. Belasan atau mungkin puluhan dari pengunjung maju ke depan panggung. Mereka turut menari.
Maka yang terjadi adalah seperti di televisi. Puluhan orang menari bersama mengikuti gerakan para penari cilik di atas panggung. Kebetulan cuaca cerah. Di langit bulan sedang bulat. Kemeriahan dan kegembiraan penutupan puncak Festival Seni Munali Patah yang diadakan Dewan Kesenian Sidoarjo itu kian lengkap.
Di tengah gegap gempita itu, sudah biasa, orang sering tidak ingat tokoh koreografernya. Tokoh yang bekerja di balik panggung, yang berpikir keras, keluar keringat dingin, mencipta gerak tubuh penari, menyiapkan desain pertunjukan, berlarat-larat untuk mengkoordinasi latihan. Dia adalah Rizky Hari Pangayom, biasa dipanggil Pangayom.
Pada sebuah kesempatan, Pangayom memberi penjelasan tentang konsep pertunjukannya. Kemeriahan, kebersamaan, dan keserempakan pertunjukan tari di puncak Festival Seni Munali Patah merupakan terjemahan dari sikap multikulturalisme.
“Penanaman sikap multikulturalisme di lingkungan seni pertunjukan sangatlah penting, sikap untuk saling bertoleransi dan saling menghargai antar budaya merupakan bekal awal seniman untuk menyadari perbedaan dari masing-masing budaya,” kata Pangayom.
Sikap multikulturalisme menumbuhkan kesadaran budaya. Bahwa, budaya tidak tunggal. Semua memiliki hak hidup sekaligus paradigma masing-masing. Paradigma yang tidak selalu sama. Majemuk. Sehingga untuk menghindari benturan, rasa saling menghormati harus dikedepankan. Ketika rasa saling menghormati telah tercapai, harmoni dan kerja sama terbuka lebar untuk dijalankan.
“Program kegiatan ini didasari pada sudut pandang cultural awareness (kesadaran budaya) dari seorang seniman maupun penikmat seni. Menguji kemampuan seniman untuk melihat ke luar dirinya maupun komunitasnya dan menyadari akan nilai-nilai/ kebiasaan seni budaya bangsa lain yang masuk. Selanjutnya, seseorang seniman dapat menilai apakah hal tersebut normal dan dapat diterima pada budayanya atau mungkin akan menjadi satu dan berakulturasi dalam kemajemukan,” papar Pangayom.
Begitulah, aksi budaya ataupun kerja berkesenian bermula dari sikap dan konsep. Selanjutnya menurun ke tataran praktis. Pangayom menerjemahkannya dalam program yang disebut Guyub Tari – Cross Culture.
“Pada program Guyub Tari – Cross Culture, beberapa genre tarian dari berbagai negara ditampilkan oleh beberapa komunitas/ sanggar di Sidoarjo. Di antaranya Japan Yosakoi Dance, France Balet, India Punjabi Dance, Hawaii Island Dance, serta flahmob Wonderlanf of Indonesia,” kata Pangayom.
Tetapi tunggu dulu. Pangayom tampaknya memiliki perbedaan kesadaran ruang. Yakni ruang publik dan ruang seni. Ruang publik dengan terikat pada norma kemasyarakatan. Sedangkan ruang seni lebih luwes dan lebih bisa menerima aksi-aksi yang menerobos batas norma kemasyarakatan. Sebab ruang seni adalah ruang kreativitas.
Perbedaan kesadaran ruang itu terlihat dari pembagian program Guyup Tari. Yakni Guyub Tari – Cross Culture yang tampilkan secara meriah di MPP dan Guyub Tari – Experience Cultural Diversity yang ditampilkan secara mendebarkan di Dekesda Art Center.
Satunya meriah dan satunya mendebarkan. Mengapa bisa begitu?
Untuk mencari jawabannya, silakan simak penjelasan Pangayom berikut:
Spectrum Contemporary Dance, sebuah lab seni yang berfokus pada garap tari kontemporer. Dengan membawakan karya berjudul “Experience Cultural Diversity”, mereka akan mencoba berkolaborasi dengan unsur-unsur visual seni rupa. Diramu dengan gerak ritmis dari tari kontemporer.
Dengan pendekatan Cross Cultural Understanding, mereka menerjemahkan dan mengkomunikasikan pesan tersebut melalui gerak dan gesture tari terhadap pemahaman dari perbedaan kebudayaan yang ada dengan menerapkan sikap toleransi, mengetahui latar belakang dan kebiasaan apa saja yang dilakukan oleh suatu suku, agama dan ras, serta memahami perbedaan budaya di berbagai tempat agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Selain pemahaman tentang Cross Cultural Understanding, karya tersebut juga bagian dari pengembangan cross-disciplinary, dimana lintas disiplin tari wiraga, wirama dan wirasa dipadukan dengan unsur-unsur disiplin ilmu seni rupa seperti garis, pemanfaatan bidang, tekstur, eksplorasi ruang dan warna.
Penampilan Guyub Tari – Experience Cultural Diversity di Dekesda Art Center, Minggu (28 Agustus 2022). dimulai dengan masuknya beberapa penari berkostum putih-putih. Mereka menari rancak. Beberapa saat kemudian, masuk penari-penari lain membawa timba berisi cat.
Cat warna warni itu lantas diguyurkan ke para penari. Tapi tarian terus berlanjut. Gerakan penari justru kian eksploratif. Mereka sempat bergulingan di tanah. Dan cat warna warni terus disiramkan.
Satu penari bercelana hitam tanpa baju, dia menjadi satu-satunya penari lelaki dalam pertunjukan, bergerak liar. Dia semburkan cat ke kanvas lebar. Lalu sembari menari, dia melukis melalui sapuan tangan, kadang disertai cakaran.
Tarian, lukisan, dan semburan cat. Semua berlangsung serempak. Mirip sebuah ritual. Mendebarkan, spontan, kontemplatif, dan sakral. [but]








