Ponorogo (beritajatim.com) – Akademisi IAIN Ponorogo, Iswahyudi, menilai gagasan moderasi beragama untuk menangkal dampak radikalisme di Indonesia perlu dikawal oleh mahasiswa. Bagi dia, mahasiswa punya kekuatan dalam pengawalan untuk menjaga keberagaman di Indonesia.
“Mahasiswa sebagai kelompok menengah memiliki peran penting dalam mendorong dan menjaga keberagaman tersebut,” ujar Iswahyudi saat menjadi narasumber dalam Muktamar Pemikiran Mahasiswa Nasional I di Graha Watoe Dakon IAIN Ponorogo, Selasa (6/9/2022).
Iswahyudi yang menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ponorogo ini menilai moderasi beragama penting dikawal mahasiswa berdasarkan sejumlah alasan. Pertama, mahasiswa punya peranan dalam menentukan arah bangsa.
“Sejarah membuktikan bahwa sejarah kebangsaan banyak ditentukan oleh pemuda dan di antaranya adalah mahasiswa,” kata dia.
Iswahyudi mencontohkan sejumlah peristiwa sejarah yang melibatkan mahasiswa sebagai aktor utama. Seperti momen berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, Sumpah Pemuda pada 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hingga reformasi 1998.
“Kedua, mahasiswa dalam struktur sosial disebut sebagai kelompok kelas menengah. Posisi mahasiswa, oleh karena itu, perlu didengar gagasannya dalam hal keberagamaan yang moderat,” kata dia.
Sedangkan alasan ketiga, terang Iswahyudi, sejak awal Indonesia adalah negara yang multikultural. Islam pun tersebar di Indonesia secara toleran dan damai.
“Keberagaman dalam beragama ini perlu dipahami,” kata dia.
Lebih lanjut, Iswahyudi menyematkan harapan pada mahasiswa agar dapat mengawal kehidupan beragama di Indonesia berjalan tetap moderat. Sehingga Indonesia dapat berkembang meraih kejayaan.
“Semoga mahasiswa Indonesia dapat mengawal Indonesia tetap jaya dengan keberagamaan yang moderat,” kata dia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ponorogo”]
Pada kesempatan yang sama, Pengajar Semantik dan Ma’anil Qur’an Universitas Nurul Jadid, Ahmad Sahidah, memaparkan tentang gerakan radikalisme yang cenderung menawarkan ide kekerasan dalam beragama. Menurut dia, radikalisme memang banyak ditolak namun acapkali mampu membuat kaum muda tertarik.
“Pesona gerakan radikal acapkali menarik segelintir anak muda untuk mengikuti dan mematuhi dogma-dogma yang ditanamkan dalam kesadaran mereka melalui pelbagai cara, seperti kegiatan sekolah, kampus, dan organisasi keagamaan,” kata Sahidah.
Radikalisme Islam, kata dia, selalu mengupayakan perubahan dramatik dalam masyarakat. Seperti gagasan tentang khilafah sebagai ketidakpuasan atas sistem bernegara yang mengadopsi nilai-nilai Barat.
Pandangan ini, terang Sahidah, sebenarnya tidak hanya dianut oleh kelompok radikal namun juga kelompok formalis dan skripturalis. Meski begitu, ide-ide mereka sempat terhalang untuk menyebar di Indonesia di masa Orde Baru.
“Seiring dengan era keterbukaan, setelah tumbangnya rezim tangan besi Orde Baru, kelompok formalis atau skripturalis menyuarakan dengan nyaring bahwa syari’ah adalah satu-satunya pilihan,” kata dia.
Sementara, dampak radikalisme sendiri sebenarnya bisa dicegah melalui pendekatan komunikasi efektif. Masing-masing pihak tidak memaksakan pandangannya dan menguatkan pengalaman pemaknaan terhadap keagamaan dengan melibatkan kelompok moderat.
“Tanpa keterlibatan kelompok moderat untuk menahan laju kaum garis keras, maka potensi konflik di masyarakat akan terus menganga,” ucap dia. [end/beq]







