Jember (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Jember menciptakan alat cetak kompos saat melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Bungatan, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Triadi Andika Rahman, salah satu mahasiswa yang punya gagasan itu, mengatakan, ide muncul setelah melihat banyaknya kotoran ternak yang dibuang begitu saja, sehingga mengotori lingkungan dan berpotensi menimbulkan penyakit. “Jumlah kotoran ternaknya cukup banyak mengingat banyak warga Desa Bungatan yang berprofesi sebagai peternak,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Selasa (6/9/2022).
Dengan bermodalkan besi pipa, besi plat, dan per besi, Trias mengawali pembuatan alat cetak ini. Idenya adalah mengubah kotoran ternak menjadi kompos blok yang siap digunakan sebagai media tanam. Alat ini selain mudah dibuat, juga hanya memakan biaya Rp 200 ribu.
Warga tinggal mencampur kotoran ternak dengan bahan media tanam seperti tanah dan sekam atau yang lain untuk kemudian dimasukkan ke alat cetak kompos ini. “Tekan dan jadilah kompos yang siap ditanami bibit sayuran. Bahkan ibu-ibu pun mudah menggunakan alat ini,” kata Triadi yang kuliah di Fakultas Teknik ini.
Triadi mengatakan, dengan alat ini, warga bisa membuat media tanam secara mandiri. “Apalagi kami melihat banyak warga Desa Bungatan yang selain berternak juga adalah petani sayur,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Alat cetak kompos karya Triadi dan kawan-kawan dipuji Affan Dimas, perwakilan warga. “Sudah lama di sini banyak kotoran ternak yang di buang sembarangan, yah karena warga kurang informasi kotoran ternak tersebut akan dikemanakan,” katanya.
Affan juga senang melihat mudahnya pembuatan alat cetak itu. “Semoga alat cetak kompos menjadi solusi pengolahan kotoran ternak di Desa Bungatan,” katanya.
Alat cetak kompos ini mendapat penghargaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur. “Kami memutuskan memilih alat cetak kompos karya mahasiswa KKN di Desa Bungatan sebagai inovasi favorit karena sudah memenuhi tiga unsur penilaian, yakni pertama orisinalitas ide, kedua inovasi yang mampu menyelesaikan masalah, serta keberlanjutan atau sustainable mengingat alat cetak kompos tersebut mudah dibuat oleh warga,” kata Ali Badrudin, Sekretaris I LP2M. [wir/ted]






