Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia sejak 50 tahun lalu adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini selalu menjadi salah satu momok permasalahan kesehatan baik di wilayah perkotaan maupun wilayah semi-perkotaan.
Setiap tahunnya data mengenai kasus DBD mengalami peningkatan selama Musim hujan dan peralihan musim. Hal ini tidak terlepas dari perilaku vektor (nyamuk eides) dan hubungannya dengan lingkungan.
Banyak daerah yang mengalami peningkatan DBD di Jawa Timur. Seperti di Tuban yang pada bulan Agustus ini mencapai 155 kasus, tiga di antaranya meninggal dunia.
Agar kita semakin tahu dan waspada akan penyakit ini, maka bekali diri dengan mengetahui fakta-fakta dan cara penjegahannya. Untuk itu kita akan membahasnya satu-persatu berikut ini;
1. Bagaimana cara penularan DBD
Secara sederhana penyakit DBD dibawa oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kemudian dari gigitan itu, nyamuk menularkan virus dengue ke dalam tubuh manusia. Namun ternyata penularan juga melibatkan reservoir pada manusia yang akhirnya terjadi transmisi penularan kembali kepada nyamuk dan manusia.
Penularan demam berdarah dari manusia ke nyamuk meningkat apabila penderita memiliki kadar virus yang tinggi atau viremia. Hal ini biasanya terjadi ketika penderita digigit sejak sekitar empat sampai lima hari, bahkan bisa bertahan selama 12 hari.
Ibu hamil juga dapat menularkan virus dengue kepada janin selama kehamilan. Ada beberapa kemungkinan resiko yang dapat dialami janin, seperti; kelahiran prematur, berat bayi rendah, hingga kematian atau keguguran. Untuk itu DBD sangat berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin.
2. Faktor Penyebaran DBD
Penyebaran dengue dipengaruhi oleh faktor iklim seperti curah hujan, suhu dan kelembaban.
Hasil Jurnal Nazri (2013) mengatakan bahwa Kelangsungan hidup nyamuk akan lebih lama bila tingkat kelembaban tinggi, seperti selama musim hujan ini. Dimana kelembaban yang tinggi dengan suhu berkisar antara 28-320°C membantu nyamuk Aedes bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama.
Curah hujan yang ideal seperti sekarang memungkinkan dengan mudah air dapat menggenang di suatu media yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang aman dan relatif masih bersih. misalnya; cekungan di pagar bambu, pepohonan, kaleng bekas, ban bekas, atau talang rumah.
Selain itu tingginya angka kejadian DBD juga dapat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk suatu wilayah. Sehingga naik turunnya jumlah kasus DBD selaras dengan kepadatan penduduk.
Semakin banyak manusia maka peluang tergigit oleh nyamuk Aedes aegypti juga akan lebih tinggi. Hal ini menjadikan pola penyakit DBD di Indonesia sangat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. (Pongsilurang, Sapulete, & Wulan, 2015).
Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap peningkatan DBD adalah perilaku host (tertular). Seperti bagaimana host memperhatikan kebersihan, kesehatan, usia, dan pendidikan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
3. Penyakit DBD telah menjadi penyakit yang mematikan sejak tahun 2013
Beberapa kali di waktu yang berbeda wabah DBD diumumkan sebagai status kejadian luar biasa (KLB). Bagaimana tidak tingkat terjangkit dan juga kematian akibat DBD masih relatif tinggi setap tahunnya.
Penyakit ini telah tersebar di 436 kabupaten/kota pada 33 provinsi di Indonesia. Tahun ini Data demam berdarah dengue (DBD) dari Kementerian Kesehatan dihitung hingga Oktober pekan ke-43 tahun 2021 menunjukkan jumlah kasus yang jauh menurun dibandingkan pada tahun 2020, yaitu 37.646 dengan 361 kematian.
Meskipun data ini lebih rendah dari tahun 2020 yaitu sebanyak 108.303 kasus namun peningkatan selama periode musim hujan harus tetap diwaspadai.
4. Cara pencegahan DBD
Cara pencegahan yang paling efektif adalah dengan pengurangan kontak langsung antara vektor (nyamuk) dan host (manusia).
WHO mengembangkan beberapa strategi untuk kawasan Asia Tenggara dalam mengendalikan dan mencegah demam berdarah dengan mengutamakan 6 elemen, yaitu; Meningkatkan sistem surveillance,
Manajemen kasus secara cepat dan efektif,
Menerapkan manajemen vektor secara terintegrasi, Meningkatkan kerjasama dan perubahan perilaku berkelanjutan, Mengembangkan kemampuan tanggap darurat dan menguatkan kemampuan nasional dan regional untuk menjalankan pengendalian dan pencegahan demam berdarah, Penelitian mengenai pengendalian vektor.
Bila mencermati kondisi yang ada, peran serta masyarakat membantu meningkatkan kewaspadaan dari segala lini. Untuk individu hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah DBD di rumah, yakni;
– menguras bak mandi minimal seminggu sekali
– membersihkan wadah dan penampung air
tidak menumpuk atau menggantung baju terlalu lama
– memakai lotion anti nyamuk
– memasang penghalang seperti kelambu ketika tidur
– menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras
– menghindari daerah yang rentan terjadi kemungkinan infeksi
– memakai pakaian yang longgar
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit”]
5. Gejala dan penanganan DBD
Gejala DBD hampir sama dengan gejala flu yang muncul 4 hingga 7 hari setelah terinfeksi, yakni;
– demam tinggi hingga mencapai 40°C
– pusing dan kepala berat
– nyeri oada sendi, tulang, dan otot
– nyeri pada bagian belakang mata dan ketika melirik
– mual, muntan dan nafsu makan menurun
– pembengkakan kelenjar getah bening
– ruam kemerahan antara 2 sampai 5 hari setelah gejala demam
– pendarahan luar, seperti pada hidung, gusi, atau di bawah kulit.
Jika sudah terinfeksi, penanganan yang paling tepat adalah langsung ke dokter. Namun sebelum itu agar infeksi dan gejala tidak semakin parah lakukan upaya sebagai berikut;
– mencegah dehidrasi dengan minum banyak air
– mencukupkan waktu istirahat
– mengonsumsi obat penurun gejala sesuai anjuran dokter
– memantau frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar.
– Hindari mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri agar tidak terjadi komplikasi.
Itulah dia hal-hal yang harus kamu ketahui mengenai DBD. Pengetahuan mengenai penyakit ini akan lebih memberikan kita sikap waspada agar dapat menekan angka terjangkitnya DBD. (Kai/ian)






