Surabaya (beritajatim.com) – Hari ini, tepatnya 26 Agustus diperingati sebagai Hari Kesetaraan Perempuan di Amerika Serikat. Peringatan ini pun menjadi ajang penghargaan bagi perjuangan para perempuan di Amerika atas hak untuk memilih di awal abad ke-19.
Ditetapkan pada tahun 1971, Hari Kesetaraan Wanita ini mulai dirayakan sejak tahun 1972. Namun sejarah berawalnya telah dimulai berpuluh-puluh tahun silam, tepatnya di tahun 1920, ketika kongres mengesahkan Amandemen Kesembilan Belas dan menetapkannya menjadi Undang-Undang Dasar.
Amandemen tersebut berisi pelarangan bagi negara bagian dan pemerintah yang menolak hak memilih warga negara Amerika Serikat berdasarkan jenis kelamin. Dengan kata lain, kala itu pergerakan perempuan di Amerika sangat dibatasi, “memilih” yang seharusnya menjadi setiap warga negara pun tidak bisa mereka dapatkan hanya karena mereka seorang perempuan.
Itulah mengapa para wanita bersatu untuk memperjuangkan kembali hak-hak mereka, dengan harapan setiap orang berhak bersuara tanpa memandang jenis kelami. Hal ini pun bisa para aktivis perempuan capai dengan perjuangan yang tidak mudah sehingga lahirlah pergerakan.
Kembali ke masa lampau di tahun 1840, ketika berada di London pada Konvensi Anti-Perbudakan Dunia. Beberapa perempuan yang menyuarakan gerakan hak-hak perempuan di tolak mentah-mentah. Lantas beberapa wanita tersebut yakni Lucretia Mott, Elizabeth Cady Staton, Martha Wright, dan masih banyak lagi berangkat ke Seneca Falls, New York untuk menggerakan konvensi hak-hak wanita.
Konvensi tersebut terlaksana juga meski butuh waktu, yakni pada 19 dan 20 Juli 1848 di Kapel Wesleyan. Di hari pertama, mereka bisa menggaet 200 wanita, dan pada hari kedua ada beberapa pria yang turut hadir.
Selama konvensi, ada 12 resolusi yang sedang mereka perjuangkan. Mereka menyebutkan jika perempuan harus setara dengan laki-laki, yakni secara sosial, ekonomi, hukum dan perwakilan. Termasuk hal untuk memilih yang sebelumnya tidak mereka dapatkan.
Dari 12 resolusi, semua dikabulkan kecuali resolusi ke-9, dengan alasan bahwa hak memilih untuk wanita akan menimbulkan kekhawatiran. Wanita dianggap bisa membuat sejumlah besar pendukung kembali menarik dukungan mereka. Namun setelah diskusi yang panjang, hak tersebut akhirnya disetujui.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wanita”]
Tanggal 26 Agustus sendiri dipilih dan disesuaikan dengan tanggal ketika Bainbridge Colbie, yang merupakan Sekretaris Negara di tahun 1920, menandatangani proklamasi mengenai hak konstitusional bagi perempuan di Amerika Serikat untuk memilih.
Tidak hanya itu, hari ini juga sekaligus menjadi pengingat bagi para perempuan penerus bangsa untuk terus memperjuangkan hak diri agar tidak ditindas oleh apapun dan siapapun, termasuk mengenai pendidikan dan pekerjaan. Sampai saat ini pun, perempuan masih banyak diremehkan. Padahal dunia sudah bisa melihat bahwa perempuan tidak hanya tentang dapur, kasur, dan sumur.
Perempuan bisa melakukan banyak hal sama seperti lelaki, itulah mengapa sebagai perempuan harus bisa membuktikannya dan terus memperjuangkan hak-hak. (mnd/ian)






