Surabaya (beritajatim.com) – Setiap orang secara naluriah pasti pernah menyangkal sebuah kenyataan. Kondisi ini biasanya disebabkan karena rasa belum siap terhadap perubahan atau ketidaksesuaian harapan.
Mereka menolak untuk mengakui segala hal yang membuatnya tidak nyaman. Dengan kata lain, penyangkalan ini untuk menghindari perasaan cemas, stres, hingga konflik emosional yang ia rasakan.
Jika dilakukan dalam waktu singkat mungkin proses denial bisa bermanfaat. Terlebih dalam memberikan waktu untuk menghadapi perubahan yang cukup mendadak.
Namun, apabila terlalu sering dan terjadi secara terus menerus, bisa jadi orang tersebut sedang mengalami gejala denial syndrome atau kebiasaan menyangkal kenyataan.
Dalam pengertian secara umum, sindrom ini merupakan mekanisme pertahanan dan proses alam bawah sadar untuk melindungi diri. Namun, meski begitu jika tidak segera diatasi dapat mempengaruhi kesehatan mental dan permasalahan hidup lainnya.
Alih-alih melakukan perubahan yang lebih baik, ia justru menolak hingga mencegah datangnya bantuan yang sebenarnya dibutuhkan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit”]
Adapun tanda-tanda seseorang mengalami denial syndrome ialah selalu menolak membicarakan masalah tersebut, selalu mencari cara membenarkan perilakunya, kerap menyalahkan orang lain, hingga membohongi perasaan sendiri.
Jika hal ini terjadi, maka lakukan beberapa cara untuk mengatasinya. Mulai dari mulai memikirkan apa yang sebenarnya ditakuti, pertimbangkan konsekuensinya jika masih saja menyangkal kenyataan, jujur terhadap diri sendiri, bicarakan pada orang yang dipercaya, dan minta bantuan profesional. (fyi/ian)






