Lamongan (beritajatim.com) – Wakil Pejabat Politik dan Ekonomi Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Clint Shoemake bersama rombongan bertandang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampahku Tanggung Jawabku (Samtaku) yang berada di Kelurahan Banjarmendalan, Kecamatan/Kabupaten Lamongan.
Seperti diketahui, TPST Samtaku Lamongan ini memang memiliki daya tarik tersendiri untuk terus digali oleh berbagai pihak. Pasalnya, TPST ini memiliki sistem pengolahan sampah yang cukup unik.
Dalam kesempatan ini, Clint Shoemake mengungkapkan bahwa kedatangannya ke TPST Samtaku ini untuk menggali dan mencari gambaran serta inovasi yang bisa diterapkan di Kota Surabaya. Sehingga ke depan, TPST modern juga bisa dibangun dan mampu mengurangi sampah di Surabaya.
“Kedatangan kami ke Lamongan untuk melihat sistem di Samtaku ini atau mungkin nanti ada ide-ide yang bisa kami bawa ke Surabaya. Kita ingin melihat bagaimana sistem itu berfungsi. Mungkin nanti bisa kita terapkan meski tidak sebesar di Samtaku,” ujarnya, Selasa (16/8/2022).
Clint menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu tindak lanjut dari tema pendaur-ulangan sampah agar lebih memiliki nilai guna. Sehingga, hal inilah yang membuat Clint bersama rekannya, Ted Kulongoski (Ekonomic officer) dan James Cressman (Fasility Manager) sangat antusias untuk mendatangi TPSP Samtaku.
Melalui kunjungan ini, Clint berharap, nantinya bisa belajar lebih mendalam tentang pengolahan dan pengelolaan sampah guna mewujudkan Indonesia yang jauh lebih indah.
“Today is very special day, because not only the political economic team came. But we also brought from Colleagues and friends from consulate who are passionate about the issue of waste, recycling and making Indonesia much prettier and lest dicty places with a lot of trash,”
“Hari ini adalah hari yang sangat spesial, karena bukan hanya tim ekonomi politik yang datang. Tapi kami juga mendatangkan rekan-rekan dari konsulat yang sangat antusias dengan isu sampah, daur ulang dan menjadikan Indonesia jauh lebih indah dan tidak kumuh dengan banyak sampah,” beber Clint.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang menyambut hangat Wakil Pejabat Konsulat Jenderal AS Surabaya ini menjelaskan bahwa TPST Samtaku memiliki beberapa kelebihan, yanh salah satunya adalah supporting government.
Selain itu, tambah Yuhronur, TPST ini juga dilengkapi dengan easy technology RDF (teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers), sehingga sisa sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dipadatkan menjadi pelet dan digunakan sebagai bahan pembakaran pabrik mitra di Bali.

Wajar, melalui kecanggihan teknologi itulah, sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Tambakrigadung bisa diminimalisir, yakni yang awalnya 50 sampai 60 ton per hari, menjadi 6 hingga 10 ton per hari (hanya residu).
“Penanganan yang dilakukan meningkat menjadi 77,5 persen dari yang sebelumnya hanya 45,5 persen. Sehingga, upaya pengurangan sampah ini juga terus meningkat, yakni dari yang semula 8,9 persen menjadi 22,5 persen,” kata Bupati Yuhronur.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tpst-samtaku-lamongan”]
Orang nomor satu di Lamogan ini juga menuturkan, pemilahan sampah di TPST ini tidak hanya memberikan dampak finansial bagi masyarakat, namun juga membantu mempermudah sistem pengolahan limbah di Kabupaten Lamongan.
“Dampak positif dari pengolahan sampah di TPST Samtaku ini sejalan dengan turut meningkatnya penanganan sampah di Kabupaten Lamongan. Bahkan TPST Samtaku Kabupaten Lamongan menjadi projek percontohan TPA yang ada di Indonesia,” tandasnya.
Sekadar informasi, sejak TPST Samtaku Lamongan ini mulai dioperasikan pada tahun 2020 lalu, keberadaannya tak hanya menjadi tempat pengelolaan dan pemilahan sampah, namun juga menjadi tempat edukasi bagi masyarakat maupun pelajar.

Lebih jauh, selain menjalankan Samtaku, Lamongan juga menggerakkan lebih dari 900 bank sampah yang tersebar di seluruh Lamongan.
Kendati demikian, semua itu tidak serta merta berjalan mulus. Masih terdapat beberapa kendala yang dialami saat mengoperasionalkan Samtaku dan bank sampah di Lamongan, mulai dari kendala sarana prasarana untuk pengangkutan sampah dari masyarakat ke TPST hingga kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di pinggir jalan maupun sungai.[riq/ted]






