Semula saya membaca tulisan-tulisan dalam buku ‘Rumah Berdinding Kisah’ (terbitan Padmedia, 2022) sebagai sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen). Saya berusaha menikmati kisahnya dengan aspek-aspek standar dalam cerpen.
Tentang bagaimana kisah dibangun melalui penokohan, bagaimana kisah dibangun melalui penggarapan alur, bagaimana kisah dibangun melalui paparan latar, bagaimana kisah digelar melalui eksplorasi bahasa. Ternyata cara membaca saya salah.
Saya terlalu terjebak dalam pemahaman sendiri. Bahwa, buku ini diterbitkan oleh Mbak Wina Bojonegoro yang bertahun-tahun membuat dan mengelola kelas cerpen. Mbak Wina, yang melalui Padmedia, berkali-kali menerbitkan buku cerpen dari banyak murid dan temannya. Ternyata, sekali lagi, pemahaman saya salah.
Saya menyadarinya setelah membaca sekitar 6 tulisan. Ternyata, buku ini lebih dari sekadar cerpen.
Buku ini perlu dibaca melalui kompleksitas kehidupan di sekitar kita. Kisah-kisah dalam buku ini merupakan perspektif atas beragam persoalan. Perspektif perempuan. Ketika kehidupan dibaca oleh perempuan. Ketika perempuan menulis dirinya sendiri.
Menulis diri sendiri, untuk era saat ini, adalah sesuatu yang sangat penting. Media sosial menyemburkan banyak tulisan yang bisa mewakili pikiran tiap orang. Media sosial seakan berpesan, “kalian tidak perlu menulis, kami menyediakan tulisan yang mewakili diri kalian”.
Dan itulah yang terjadi. Media sosial dijejali oleh tulisan hasil copy paste. Bahkan ketika seseorang mengungkapkan cinta terdalam, fantasi terliar, doa tulus yang sangat pribadi, hal sederhana di ruang privat. Semua tidak dihasilkan oleh tulisan sendiri tetapi mencomot tulisan lain. Kadang malah sebatas diwakili oleh share stiker Whatsapp.
Buku ini tampaknya menghadang arus zaman. Buku ini mengajak perempuan untuk menulis dirinya sendiri. Dan tidak sekadar mengajak tetapi sekaligus memberi tutorial, membekali ilmunya menulis.
Hasilnya, lihatlah, semua perempuan dalam buku ini memaparkan kisanya dengan sangat runtut. Sistematis. Beberapa memainkan paparannya dengan pola flash back. Beberapa yang lain menyusun kisah melalui penggalan-penggalan seperti scene film atau tempelan album foto. Seperti hidup yang memang kerap kali tidak lurus-lurus saja.
Didi Cahya berbagi kisah tentang nostalgi anak kos. Seru. Dia menyelipkan peristiwa mistis yang ternyata kalah menakutkan dibandingkan aksi orang gila.
Berbeda dengan Didi, nostalgi Febriyanti Dwi Safitri adalah tentang rumah dinas yang pernah ditempati bersama orang tua. Rumah K-24. Sebuah pesan didedahkan, sebaik-baiknya rumah dinas, ia tetaplah bukan milik kita, sewaktu-waktu harus ditinggalkan.
Kenangan tentang rumah dinas dikisahkan pula oleh Yuliani Kumudaswari. Kali ini rumah dinas PJKA. Rumah yang pernah dicintai namun tak bisa dimiliki. Kesementaraan. Saya membayangkan, dunia seperti rumah dinas, manusia menempatinya secara bergiliran, bila waktunya tiba harus ditinggalkan untuk ditempati manusia lain.
Yuliani Rosyadi memaparkan kebahagian yang terpenggal karena orang tua bercerai. Rumah dijual dan ia yang masih kecil terpaksa dititipkan kepada kakek-nenek. Di situ persoalan muncul sebab ia bukan satu-satunya cucu.
Berbeda dengan Yuliani, kisah dari Afiarina adalah tentang seorang ibu yang berjuang membesarkan anak sekaligus mencari nafkah sendirian tanpa suami. Dua rumah kontrakan jadi saksinya.
Dewi Purboratih berbeda lagi. Dia beberapa kali mengubah impiannya tentang rumah. Ketika kecil terpesona dengan rumah nenek yang super rapi. Ketika remaja terpesona dengan belantara hutan dan gunung sehingga ingin rumah yang merepresentasikan kebebasan. Pada akhirnya, dia memilih menciptakan rumah untuk kenyamanan keluarga.
Upaya menciptakan kenyamanan rumah secara personal juga dikisahkan oleh Intan Aida Diliana dan RWilis. Setelah nomaden bersama orang tua, Intan menikah lalu asyik menjadi nyonya rumah hijau toska. Sedang RWilis asyik dengan rumah gedong berpagar teh-tehan. Dengan catatan, RWilis butuh perjuangan tidak mudah agar pagar teh-tehan bisa dipertahankan.
Kisah satire dituliskan oleh Bintang SH. Tentang begudung alias tikus. Berlatar belakang budaya Batak Toba yang eksotis, tikus tiba-tiba muncul saat ekonomi rumah tangga sedang goyah akibat pandemi Covid-19. Tentu kemunculan dengan potensi gangguan. Tetapi di akhir kisah, keberadaan tikus justru mampu mencairkan kebekuan komunikasi suami – istri.
Triana Damayanti juga berkisah pengaruh pandemi Covid-19. Covid plus kanker. Keluarga dipaksa lebih banyak tinggal di rumah. Memaksa pula untuk memilih pola hidup sehat dan tertib.
Bagi yang penasaran dengan cara Wina Bojonegoro bersama suami membangun Omah Padma, tulisan di buku ini adalah sebagian jawabannya. Lahan rumah yang semula tidak boleh dibeli dengan harga Rp 200 juta tetapi tiba-tiba ditawarkan dengan harga Rp 150 juta. Itu pun lantas diskon Rp 10 juta.
Sedangkan bagi yang ingin tahu tentang gambaran rumah ideal, silakan baca tulisan WS Arianti. Yakni rumah di pedesaan, dekat sarana umum, dan ramah lingkungan. Tentu kisahnya tidak sekadar itu.
Tetapi rumah ideal ternyata hanya milik dongeng dan milik orang tua. Untuk membangun sendiri, impian dan kenyataan bisa sangat berbeda. Itu yang tersaji dari kisah Yenni Sampoerno. Perjuangan tak selesai-selesai untuk membangun rumah ideal. Mulai dari bercerai, 17 tahun merawat anak-anak, menikah lalu berumah menghadap pantai di Australia, hingga akhirnya impian terealiasi pada apartemen di Surabaya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Pada intinya, kenyamanan rumah terletak pada keluarga yang akrab dan terbuka. Bukan pada harta atau kemewahan. Indria Pramuhapsari membuktikan dalam kisahnya. Kisah tentang rumah yang tanpa dinding.
Berbeda dengan Indria, rumah ideal dari Made Dwi Adnjani adalah yang bergaya kuno dan memiliki perpustakaan pribadi.
Masih ada beberapa kisah lain dalam buku ini. Semuanya menarik. Terlihat tidak diciptakan secara grusa-grusu alias serampangan. Kisah yang terukur. Bersumber dari kehidupan nyata. Kehidupan perempuan-perempuan yang berani menulis. Berani belajar menulis. Berani menyadari bahwa belajar menulis itu tidak mudah. Menghasilkan tulisan bagus itu butuh diperjuangkan.
Maka, buku ini menjadi penting bagi penulisnya, bagi pembaca, dan berkontribusi dalam khazanah literasi. Bukan sebuah buku ecek-ecek. [but]






