Surabaya (beritajatim.com) – China diketahui telah memblokir impor beberapa produk dari Taiwan, seperti jeruk dan ikan. Hal ini diketahui sebagai imbas atas kunjungan Nancy Pelosi, ketua DPR AS ke Taiwan dalam rangka tur Asia.
Melansir Associated Press (02/0822), meskipun keputusan ini cukup tegas, China tetap memilih untuk tidak menggangu jalannya hubungan baik dari segi teknologi dan manufaktur yang berskala internasional. Jika sebaliknya maka diprediksi dapat memberikan dampak kejut bagi ekonomi global.
China dan Taiwan yang telah berpisah sejak tahun 1949 setelah perang saudara, kini tidak memiliki hubungan bilateral resmi. Akan tetapi ikatan bisnis yang bernilai miliaran dolar masih terus berjalan.
Salah satunya dan yang menjadi sorotan sekarang adalah sebuah produk chip prosesor buatan Taiwan yang dibutuhkan oleh pabrik-pabrik China, dimana hal itu dibutuhkan untuk produk dan barang elektronik lainnya.
Melansir Financial Times, perdagangan dua arah ini mengalami kenaikan 26% tahun lalu menjadi $328,3 miliar. Taiwan, yang memproduksi setengah chip prosesor dunia dan memiliki teknologi yang tidak dapat ditandingi oleh China daratan, telah melakukan menaikkan penjualan ke pabrik-pabrik China dengan cost 24,4% menjadi $104,3 miliar.
[berita-terkait number=”3″ tag=”politik”]
Ketua DPR AS, Nancy Pelosi yang telah tiba di Taiwan mengatakan bahwa AS tidak akan meninggalkan Taiwan saat China terang-terangan memprotes kunjungannya.
China memblokir impor ratusan makanan lainnya dari Taiwan termasuk kue dan makanan laut. Situs Web resmi menunjukkan status ‘penangguhan’ produk dengan jangka waktu yang kurang jelas.
Dalam bentuk yang lebih tegas, Partai Komunis China mengatakan kunjungan Nancy Pelosi mungkin memberanikan Taiwan untuk membuat kemerdekaan de facto. Beijing juga mengatakan hal itu akan mengarah pada perang. (ian)






