Surabaya (beritajatim.com) – Tidak semua orang menikmati olahan organ dalam sapi, khususnya babat. Sebab, bagian tubuh sapi ini terkenal sulit diolah.
Butuh teknik khusus dalam mengolah babat. Ini karena babat kerap mengeluarkan aroma dan rasa amis jika pengolahannya tidak tepat.
Tetapi di tangan Mbok Moro, babat bisa menjadi menu yang luar biasa lezat. Apalagi, disajikan dengan nasi hangat dan sambal yang pedas.
Penasaran dengan rasanya? Datang saja ke Warung Sego Babat Mbok Moro di Jalan Karang Menjangan 97C, Surabaya.
Segala macam olahan organ dalam sapi terjadi di sini, mulai dari babat, paru, maupun usus. Bagi yang kurang suka dengan sapi, tempat makan ini juga menyediakan penyetan ayam.
Warung yang didirikan Temuninah, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbok Moro pada 2018 ini begitu populer di kalangan penggemar jeroan sapi. Menu babat, usus dan paru olahan Mbok Moro terkenal dengan rasanya yang mantap.
Meski menu babat sudah sangat lumrah ditemui di Surabaya, masakan Mbok Moro punya kelebihan tersendiri. Kelebihan inilah yang sukses membuat pelanggan balik lagi.
Kelebihan itu terletak pada tekstur babatnya yang lembut. Babat yang terkenal alot bisa diolah begitu empuk hingga mudah dikunyah. Selain itu, aroma dan rasa amis sepenuhnya hilang sehingga tidak mengganggu selera saat dikonsumsi.

Keunggulan lain, rasa gurih dari bumbu rempah membuat menu babat di warung ini favorit masyarakat. Bumbu ketumbar yang kuat hingga merasuk ke bagian dalam mampu membuat bersemangat makan.
Menu babat kurang lengkap jika disajikan tanpa sambal. Warung Sego Babat Mbok Moro ini punya sambal ekstra pedas. Kerennya, sambal dibuat langsung ketika ada pesanan dari pengunjung. Sehingga sambal yang tersaji selalu segar.
Temuninah mengaku sebenarnya tidak ada resep rahasia di balik pengolahan babat maupun bagian dalam sapi lainnya. Dia hanya memperbanyak bumbu dan mengolah bagian dalam sapi dengan tepat.
“Saya itu nggak ada menu rahasia gitu, tapi saya nggak pernah kurang-kurangi bumbunya, juga kan babat itu bau, jadi harus telaten mengolahnya biar baunya hilang,” ujar Temuninah.
Salah satu pelanggan Warung Sego Babat Mbok Moro, Rini, mengakui masakan di tempat ini memang berbeda dengan warung lainnya meski dengan menu yang sama. Salah satu bedanya ada pada tekstur yang empuk.
“Babatnya memang benar-benar empuk, biasanya babat itu banyak yang jual agak alot atau masih bau nggak enak gitu, tapi di sini babatnya empuk sekali. Kalau saya paling suka ususnya. Ususnya itu bahkan isi lemaknya masih terjaga, nggak ilang karena diungkep atau digoreng, jadi saat dimakan, masuk ke mulut, melelehlah itu lemaknya di dalamnya, enak banget,” ujar Rini kepada beritajatim.com.

Rini pun mengakui babat buatan Mbok Moro memang punya rasa yang kuat. Ini karena penggunaan bumbu yang tidak pernah tanggung.
“Sejak saya jadi pelanggan di sini, rasanya bumbunya itu nendang banget gituloh. Saya sudah jadi pelanggan sejak harga saat itu masih Rp13 ribu,” ujarnya.
Menjadi begitu digemari, Warung Nasi Babat Mbok Moro kini mampu menghabiskan sekitar 15 kilogram jeroan sapi dan 5-7 kilogram menu olahan ayam. Padahal awalnya Temuninah bermodal Rp150 ribu dan hanya memasak setengah kilogram babat saja.
“Saya itu nggak nyangka bisa selaris ini sekarang, padahal dulu itu saya cuma modal setegah kilo babat saja, saya bagi-bagikan ke satpam-satpam kampus, ke tetangga sebagai tester, terus mereka bilang enak besoknya saya ambil modal Rp150 ribu saja, jadi 15 bungkus,” tukasnya.
Selama setahun awal, Temuninah mengandalkan pesanan dari mulut ke mulut pelanggannya. Saat itu, harga seporsi nasi babat hanya Rp10ribu dan Rp13 ribu untuk nasi babat campur yang terdiri dari babat, usus, dan paru.
Respon positif dari pelanggan terus meningkat dan nasi babat Mbok Moro jadi hidangan kuliner yang selalu jadi pilihan. Kini, Warung Nasi Babat Mbok Moro jadi tempat makan terlaris di sekitar kampus B Unair.
Buka mulai pukul 17.00 WIB hingga 02.00 WIB setiap hari, warung yang terletak di depan rumah itu hanya punya satu meja dan bangku panjang. Tentu tidak cukup untuk makan lebih dari empat orang. Meski begitu, pelanggannya cukup setia untuk menyantap nasi babat yang kini dijual seharga Rp18ribu per porsi. Sementara nasi babat campur seharga Rp20ribu serta nasi sambelan menu ayam paling mahal hanya Rp15ribu.
Meski harga sudah naik dibandingkan pertama kali warung ini buka, porsi babat goreng yang disajikan tidaklah berkurang. Potongan babatnya besar, terjadi dengan sambal yang tidak pelit. [adg/beq]






