Waktu sudah melewati menit 90. Ofisial pertandingan memberikan tambahan waktu dua menit. Belum ada gol yang tercipta. Penonton sudah bersiap menanti perpanjangan waktu dalam final sepak bola putra Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur (Porprov Jatim) VII, di Stadion Semeru, Kabupayen Lumajang, Sabtu (2/7/2022) malam.
“Yo, ayo, ayo Jember. Kuingin kita harus menang,” kelompok suporter Jember di tribun timur masih menyanyikan dukungan dengan penuh keyakinan.
Para pemain Jember mendapat kesempatan terakhir di sisi kanan pertahanan Kabupaten Pasuruan. Lemparan ke dalam. Bola dilemparkan pendek saja oleh Indra Lesmana ke Richard Arbed Anderson. Sang kapten meneruskan bola cepat ke Abdul Aziz yang sepanjang pertandingan merepotkan barisan pertahanan lawan.
Aziz menari-nari melakukan gocekan dan memperdayai barisan pertahanan Pasuruan, sebelum mengirimkan bola pendek kembali ke Richard. Satu sentuhan, bola dioperkan ke Robby Afil yang memberikan bola dengan operan tumit kembali ke Richard yang sudah bergerak maju. Bola tembakan Richard gagal dihadang Akhmad Yanuar pada menit 90+2, dan selanjutnya adalah sejarah.
Richard menjadi pahlawan bagi Jember malam itu. Gol itu istimewa, karena dicetak ke gawang tim yang dinilainya sebagai lawan terberat selama Porprov Jatim VII. “Mereka pemain bagus semua. Sayapnya kencang-kencang larinya, pemain tengahnya juga bisa bermain bagus. Kehilangan sosok M. Hifni (gelandang bertahan Jember) sangat berpengaruh terhadap kami. Saya juga kaget, biasanya ada yang meng-cover dari belakang, malam ini harus membiasakan diri tanpa Hifni,” katanya.
“Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik. Kami berusaha jangan sampai perpanjangan waktu. Sebelum pertandingan dihentikan (pada menit 34, karena penonton meluber), kami bermain di bawah tekanan. Kami mengikuti alur permainan Pasuruan. Setelah ada jeda, kami mendapat arahan dari pelatih, dan bisa berubah,” katanya.
Gol pada menit terakhir ini melengkapi catatan manis Richard sepanjang gelaran cabang olahraga sepak bola putra Porprov Jatim VII. Anak ketiga dari empat bersaudara itu mencetak tiga gol dan dua assist (operan menghasilkan gol), saat pertandingan melawan Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Pasuruan. “Semua berkat Tuhan, atas kemurahan Tuhan. Saya cuma berusaha saja,” katanya.
Gol yang berbuah medali emas itu bermakna dua hal bagi Richard. Tak hanya kado perayaan ulang tahun ke-22 sehari sebelumnya. gol itu juga akan menjadi gol terakhir anak pasangan Sutikno dan Siane Krestandio ini sebagai seorang pemain sepak bola.
“Ini pertandingan terakhir saya. Selanjutnya saya akan kembali menekuni studi. Saya memiliki target untuk lulus S1 dan melanjutkan ke S2,” kata Richard yang tercatat sebagai mahasiswa semester delapan Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini.
Mengapa pensiun pada usia yang sangat muda? “Saya berpikir, sepak bola di Indonesia masih kurang sehat. Pendidikan jauh lebih penting untuk masa depan saya,” kata Richard.
[berita-terkait number=”4″ tag=”sepak-bola-porprov”]
Richard mengawali debutnya di Sekolah Sepak Bola Persam Niagara Ambuli, Jember. Nama Richard moncer setelah membawa tim sepak bola Pondok Pesantren Nurul Islam menjuarai Liga Santri Nusantara 2015. Dia juga dinobatkan menjadi pemain terbaik saat itu.
Namun kemunculan Richard ini diiringi kontroversi. Lahir dari orang tua beragama Kristen, kehadirannya di Liga Santri sempat dipersoalkan. Sutikno, sang ayah, saat itu membantah jika anaknya seorang nasrani. “Dia mualaf,” katanya.
Tahun 2017, Richard direkrut Persebaya U17 dan bertanding di Piala KONI. Persebaya berhasil menembus Babak Delapan Besar. Namun turnamen itu dibubarkan di tengah jalan karena terjadi penganiayaan terhadap Bonek, suporter Persebaya.
Gagal meraih gelar bersama Persebaya, Richard menorehkan catatan manis bersama Persid Jember dalam turnamen Piala Suratin tahun itu juga. Tim yang dimanajeri sang ayah itu berhasil menjuarai kompetisi sepak bola Liga Remaja Piala Suratin Zona Jawa Timur. Mereka mengalahkan PSBK Blitar melalui adu penalti dalam babak final di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (29/9/2017) malam.
Saat itu, Richard juga menjadi pahlawan penyelamat Persid dengan mencetak gol penyama kedudukan pada menit 90+2 melalui tendangan bebas. Kedudukan 1-1, pertandingan diselesaikan dengan adu penalti. Kiper Persid Yulian Nur Ramadani berhasil mengantisipasi bola penendang terakhir PSBK, M. Iqbal. Persid berhasil memastikan gelar juara setelah Rifki Rizal menjebol gawang PSBK.
Setahun berikutnya, Richard bermain untuk Persinga Ngawi dalam kompetisi Liga 3. Ia tak sendirian. Ada tiga pemain mantan Persid U17 yang memperkuat Persinga, yakni Marten Rey Matulewar, Guntur, dan Kevi Ivahertian. Laskar Ketonggo saat itu juga dilatih Fahmi Amiruddin, yang sukses membawa Persid U17 menjuarai Piala Suratin Zona Jatim.
Richard diturunkan dalam sebelas pertandingan dan mencetak satu assist. Salah satu pertandingan yang paling berkesan adalah saat menghadapi Persebaya di Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada Babak 32 Besar Piala Indonesia, Sabtu (16/2/2019). Dalam pertandingan itu, Persinga dihajar delapan gol tanpa balas oleh Bajul Ijo.
Kiprah Richard di Liga 3 berlanjut dengan memperkuat Semeru FC Lumajang pada 2019. Setelah tak ada kompetisi pada 2020 karena pandemi Covid, Richard kembali bergabung dengan Persid Jember setahun berikutnya dan menjadi kapten di sana.
[berita-terkait number=”3″ tag=”porprov-jember”]
Dilatih legenda Persebaya Riono Asnan, langkah Persid terhenti pada Babak 32 Besar Kompetisi Sepak Bola Liga 3 Zona Jawa Timur. Mereka dikalahkan tuan rumah Persida 1-2 (1-1) di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Senin (29/11/2021) malam.
Sepanjang memperkuat Persid, Richard sering menjadi sasaran kecaman dan ledekan penonton. “Saya kasihan kepada anak itu, karena di-bully (dirundung) oleh suporter sendiri di media sosial, setelah Persid kalah 0-1 dari Banyuwangi Putra,” kata Sutikno, yang juga Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember.
Ejekan itu dibalas dengan kerja keras. Richard berhasil mencetak satu gol dan tiga assist dalam lima pertandingan untuk Persid.
Richard kembali dianggap remeh saat memperkuat tim sepak bola Jember dalam Porprov Jatim VII. Ia menjadi sasaran ejekan penonton yang hadir dalam pertandingan di Stadion Notohadinegoro, Jember. Namun sebagaimana saat memperkuat Persid, ia tak ambil pusing.
“Saya menganggap kritik itu adalah pelecut semangat untuk terus membenahi performa agar tak berleha-leha. Tuhan sangat adil buat saya. Dia tahu umat-Nya tidak akan diuji di luar kemampuannya,” kata Richard.
Dan malam itu Tuhan menyediakan skenario eksit yang sempurna buat Richard dari dunia sepak bola. Anak muda itu meninggalkan lapangan hijau sebagai juara. [wir/suf]






