Bojonegoro (beritajatim.com) – Salah seorang perempuan yang menjadi korban dugaan tindakan pencabulan yang dilakukan oleh Moch Subchi Azal Tsani/MSAT (42) atau yang akrab disapa Bechi masih mengalami tekanan psikis. Terlebih sudah hampir tiga tahun saat kasusnya mencuat pelaku masih bebas beraktivitas.
Salah satu korban asal Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan, setelah adanya korban yang melaporkan tindak pencabulan oleh putra dari Muhammad Mukhtar Mukhti pemilik Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah di Kabupaten Jombang itu, banyak sekali intimidasi yang datang.
“Sampai sekarang masih banyak sekali bentuk intimidasi dan teror yang datang dari kelompok-kelompok pelaku, bukan cuma menyerang pribadi tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar korban, Kamis (7/7/2022).
Adanya bentuk intimidasi dan teror tersebut yang memperparah trauma korban. Selain itu, stereotipe di masyarakat tentang korban pencabulan yang negatif membuatnya dirundung trauma. Korban bahkan mengaku sempat terpikir melakukan bunuh diri karena belum terbentuk support sistem yang baik dari orang sekitar.
“Hanya ada ibu dan suami saya yang mendukung, hingga membuat saya bisa bertahan sampai saat ini. Sekarang ibu sudah meninggal,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”anak-kiai-jombang”]
Sementara, Divisi Gender, Anak dan Kaum Marjinal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro Bhagas Dani mengungkapkan, perspektif korban terutama dalam kasus kekerasan seksual harus menjadi pertimbangan penting dalam proses hukum. Sehingga, tidak menambah traumatis korban.
“Kasus ini harus segera dituntaskan, apalagi dengan melihat pelaku masih bisa bebas ini akan menambah rasa trauma terhadap korban,” tegasnya.
Bhagas menambahkan, ketika berbicara kekerasan seksual kerap tak bisa lepas dari relasi kuasa. Mengingat budaya patriarki masih kental, sehingga korban kekerasan seksual hingga kini didominasi kaum perempuan. Ketika jadi korban kekerasan seksual, tak banyak perempuan berani speak up dengan pelbagai alasan.
Kerap kali, lanjut dia, korban justru diintimidasi, diserang balik, atau bahkan disalah-salahkan, entah dari busananya atau respons yang lemah. Akibatnya, ada banyak korban kekerasan seksual memilih diam, karena takut menelan konsekuensi-konsekuensi buruk tersebut.
“Apalagi pelaku kekerasan seksual merupakan sosok berpengaruh sekaligus berkuasa, otomatis korban bakal berpikir sangat panjang untuk bersuara,” pungkasnya. [lus/but]






