Banyuwangi (beritajatim.com) – Kondisi pandemi yang mulai mereda di momen Kebangkitan Nasional ini juga membuat Aice Group dan Rumah Literasi Indonesia (RLI) perlu mengaktivasi kontribusi masyarakat dalam proses pendidikan luar sekolah bagi anak.
Bersama RLI dan relawan profesional dari berbagai bidang, Aice Group berupaya memperbaiki budaya literasi siswa Sekolah Dasar (SD) lewat program #15HariAiceBerbagiSehat.
Brand Manager dan Juru Bicara Perusahaan Aice Group, Sylvana Zhong menjelaskan bahwa pendidikan anak tidaklah bisa hanya digantungkan pada kinerja sekolah formal. Menurutnya orang tua dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun fondasi nilai dasar kehidupan bagi anak.
“Kebangkitan nasional dimulai salah satunya dari pendidikan anak-anak kita. Kemauan yang keras, budi pekerti dan cita-cita anak dapat diperoleh dari bimbingan para profesional berbagai bidang. Sebagai perusahaan yang produknya dekat dengan masyarakat, Aice mendukung upaya kolektif dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, lewat program #15HariAiceBerbagiSehat bulan ini Aice mendukung kampanye literasi siswa SD. Apa yang dilakukan RLI di Banyuwangi menjadi pilot model yang bagus untuk dijalankan di daerah lain Indonesia juga,” jelas Sylvana.
Tunggul Harwanto, Pimpinan RLI, sebuah yayasan yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini menjelaskan bahwa organisasinya bersama dengan Aice Group saat ini menjadikan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini sebagai momen kegiatan relawan dan profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi dalam misi perbaikan pendidikan di Indonesia.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bisnis”]
Lewat programnya, relawan dari berbagai latar belakang memanfaatkan libur dan cutinya selama tiga hari secara serentak dengan mengunjungi dan mengajar berbagai Sekolah Dasar di wilayah Banyuwangi. Di giliran bulan ini, RLI melaksanakan rangkaian acara bertajuk Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) Kampung Bongkoran sejak Jumat (20/5/2022) ini hingga dua hari setelahnya.
“Kami memulai upaya bersama dengan banyak pihak sejak 2014, dengan mengumpulkan kontribusi tenaga, pikiran, barang dan dana dari banyak relawan dan berbagai kalangan masyarakat maupun swasta. Kami mengajar di berbagai sekolah yang ada di kota maupun di kampung. Interaksi antara para profesional berbagai bidang dengan siswa dan guru SD diniatkan untuk membangun gagasan kemajuan bagi anak-anak kita,” jelas Tunggul.
Selain itu, RLI juga meyakini program yang berkesinambungan bukan hanya akan memberikan pengalaman dan gambaran bagi masyarakat secara langsung terhadap kondisi pendidikan publik di Banyuwangi, tapi juga membangkitkan empati dan apresiasi terhadap guru yang ada di pelosok. Bonus lainnya, keberhasilan program secara otomatis akan membangun pula jejaring antar sekolah dalam bekerjasama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di lapangan.
Dalam aktivitas ISL kali ini mereka melibatkan sekitar 300 siswa SD, orang tua dan relawan dari berbagai bidang. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SDN 04 Kampung Bongkoran, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.
Kegiatan selama tiga hari tersebut akan meliputi berbagai aktifitas belajar siswa di dalam dan luar ruang. Tak kurang dari 32 relawan dari kalangan profesional berbagai bidang akan memberikan gambaran kepada siswa SD tentang berbagai profesi yang dapat dijadikan pilihan cita-cita di masa depan.
Selain itu, lewat kegiatan Kelas dan Panggung Literasi, para siswa akan diberikan kesempatan untuk berpendapat, sharing, dan berdiskusi dengan para profesional. Sesi tersebut ditujukan untuk memotivasi siswa agar lebih percaya diri dan mau belajar dengan keras untuk mencapai cita-citanya. [rea]






