Ponorogo (beritajatim.com) – Masjid Jami Tegalsari di Desa Tegalsari Kecamatan Jetis Ponorogo mungkin menjadi masjid yang selalu ramai setiap bulan Ramadan.
Ya, ribuan orang berbondong-bondong ke salah satu masjid yang tertua di bumi reog ini. Tidak hanya untuk beribadah, kebanyakan orang juga melakukan ziarah makam ke pendiri mesjid yakni Kiai Ageng Mohammad Besari. Makam tokoh islam yang dulu dikenal se-nusantara itu, berada di barat masjid tersebut.
Jemaah masjid tersebut semakin ramai jika sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Sejatinya, masjid Jami Tegalsari tidak hanya ramai di bulan Ramadan saja, bulan biasa dan setiap malam jumat, masjid selalu penuh bagi jemaah yang ingin solat malam.
“Di bulan Ramadan masjid Jami Tegalsari sebulan penuh selalu ramai,” kata salah satu jemaah Hendras Aburaka, Selasa (26/4/2022).
Hendras yang rumahnya di Ponorogo Kota rela menembus dinginnya malam datang ke Tegalsari Kecamatan Jetis untuk beribadah dan ngalap berkah dengan beriktikaf di masjid itu. Tidak hanya di bulan Ramadan, Ia juga beribadah ke mesjid Tegalsari setiap malam jumat.
“Selain bulan Ramadan, setiap malam jumat di Masjid Jami Tegalsari ya selalu ramai. Tidak hanya beribadah ke masjid, jemaah juga ziarah makam ke tokoh-tokoh islam yang masih berada si komplek masjid,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ramadan”]
Sementara itu, Kunto Purnomo, penasihat Yayasan Kyai Ageng Mohammad Besari mengungkapkan bulan Ramadan tahun ini, jamaah masjid Jami Tegalsari kembali membludak. Membludaknya jemaah ini seperti terjadi pada bulan-bulan Ramadan sebelum pandemi Covid-19.
“Dua tahun pandemi kemarin, masjid ditutup untuk umum, jemaahnya hanya lingkungan masjid saja. Sehingga dalam 2 edisi Ramadan lalu masjid sepi,” kata Kunto.
Penutupan masjid karena masa pandemi Covid-19 lalu, digunakan Yayasan Kyai Ageng Mohammad Besari untuk melakukan renovasi. Halaman yang semula berlantai paving telah diubah granit sehingga dapat digunakan untuk beribadah. Otomatis kapasitas tampung jemaah pun bertambah.
“Tahun lalu saat pandemi Covid-19 kita lakukan renovasi, sehingga kapasitas daya tampung jemaah pun bertambah,” ungkap Kunto.
Kunto menyebut setiap 10 hari terakhir Ramadan mencapai ribuah jemaah. Bahkan saat menunaikan salat sunah Lail, jemaah membludak sampai parkiran. Lahan sekitar masjid yang setiap malam jumat dibuat parkir, kalau malam ganjil digunakan untuk menampung jemaah yang mulai meluber keluar masjid.
“Malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan selalu ramai. Aktivitas berburu Lailatulqadar itu biasanya berlangsung hingga menjelang sahur,” pungkasnya. (end/ted)






