Surabaya (beritajatim.com) – Pengabdian, hal ini yang bisa dikatakan untuk sosok Jefri Kurniawan, mantan PSS Sleman yang kini memilih mengisi waktu liburan kompetisi menjadi pelatih di SSB Lawang. Memang di SSB itulah ia bertumbuh dulu menjadi pemain bola.
Berada di Stadion Lawang Kabupaten Malang Jawa Timur, ia melatih anak-anak usia dini berlatih sepak bola dari beberapa kawasan di wilayah Malang hingga Pasuruan.
Semua berawal dari kenangan masa kecilnya dimana ia dibesarkan lewat SBB yang berdiri sejak 1999 ini. Dari sini ia ingin menjadi pelatih untuk anak-anak yang kini tengah menimba ilmu sepak bola.
Pemain berwajah oriental ini mengambil program beasiswa dari Kemenpora melalu APPI tahun lalu dan kini ia telah mengantongi lisensi C untuk mengawali pengalaman barunya sebagai pelatih sekolah sepak bola.
“Awalnya saya ambil lisensi program beasiswa dari Menpora melalui APPI setahun yang lalu, nah ini yang saya gunakan untuk menjadi pelatih ketika pulang libur kompetisi. SSB Lawang ini dulunya tempat saya belajar sepak bola makanya saya ingin melatih di tempat sini juga,’ ungkap gelandang berusia 31 tahun ini, Rabu (20/4/2022).
Lebih lanjut di ceritakan mantan pemain Borneo FC ini, suka duka pun dirasakan ketika menjadi pelatih sekolah sepak bola untuk anak-anak. Dengan nada bahagia, Jefri lebih tertarik menceritakan sukanya.
Menurutnya SSB dimana ia mengajar ini memiliki filosofi tersendiri. Bukan hanya mengajarkan teori sepak bola tapi juga attitude yang baik.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pssi”]
“Dimana-mana SBB banyak sekali, semakin banyak juga pekerjaan rumah buat sepak bola di usia dini. Apalagi selain inovasi, ya setiap SBB harus punya filosofi dan pondasi pengajaran yang kuat. Bukan hanya sekadar membentuk SBB saja. Itu alasan saya kembali ke tempat saya belajar sepak bola,” ceritanya.
Ia berharap kepada semua anak didiknya untuk mengerti makna dari belajar sepak bola. Semua tidak ada yang instan.
“Kalau bicara instan, biasanya itu dari orang tuanya. Jadi intinya mereka mintanya main turnamen dan juara. Tapi ya itulah, kembali ke pengajar, bagaimana memberi pemahaman. Tidak hanya ke anak didik tapi juga ke orang tua,” tutupnya. [way/but]







