Magetan (beritajatim.com) – Ayam Panggang memang bukan khas Kabupaten Magetan. Namun, terasa tak lengkap jika berkunjung ke Magetan tanpa mampir ke Gandu, Desa/Kecamatan Karangrejo, Magetan untuk menyantap Ayam Panggang. Sudah puluhan tahun ayam panggang jadi wisata kuliner hits di Magetan, dan yang paling lama adalah Ayam Panggang Bu Setu.
Setu memang tak hanya satu–satunya yang membuka rumah makan khusus menu ayam Panggang. Di sekitarnya khususnya di Dusun Gandu, hampir semua warganya juga membuka rumah makan. Namun, dari beberapa pilihan, banyak sekali yang langsung menuju ke Ayam Panggang miliknya. Setu mengakui kalau resep masakan sejak puluhan tahun tetap dijaga, sehingga kualitas rasa juga tetap terjaga. “Ya rempah – rempah untuk yang bumbu rujak, kalau yang bumbu bawang ya memang garam ketumbar dan bawang putih saja,” kata Setu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kuliner”]
Pemanggangnya pun masih menggunakan tungku tradisional yang berbahan bakar kayu. Smeentara, Setu jug amengguanakn wajan dari tanah liat untuk memanggang ayam. Ayamnya pun harus ayam kampung. Tungku tradisional tak hanya membuat ayam jadi matang merata karena api yang besar, tapi juga menjaga rasa dan aroma. “Yang enak di situ,” ungkapnya.
Awalnya, dia hanya pedagang panggang keliling. Dulu dia berjalan ke beberapa desa di sekitar Karangrejo. Hingga akhirnya dia berdagang sampai ke daerah Maospati, dan ke Madiun. Itu pun dimulai sekitar tahun 1970 – an. Waktu itu anak – anaknya ada yang masih SD. Sehingga, semua dikerjakan olehnya dan suaminya. “Dulu masih kerepotan. Belum lagi kalau ada yang gak laku,” ungkapnya.
Namun, lama kelamaan dia pun akhirnya memiliki pelanggan tetap. Setelah modal cukup, dia pun mulai membuka warung makan yang tentunya menu utamanya adalah ayam panggang. iTu pun dimulai tahun 1980. Saat itu hanya dia, sang suami dan anak – anaknya saja yang mengurus warung makan. Hanya sekitar enam orang saja. Hingga kini sudah mencapai 30 karyawan yang ada di rumah makannya. “Semuanya dari daerah sini saja,” katanya.
Tak ayal di hari–hari biasa pun ada sekitar 200 hingga 350 ekor ayam yang terjual. Baik dibawa pulang atau pun dimakan di tempat. Setu, salah satu pemilik usaha ayam panggang itu pun mengungkapkan bahwa dia menyiapkan 800 hingga 100 ekor ayam untuk lebaran. “Tahun kemarin sekitar segitu, dulunya 800 ekor,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa sebenarnya pun tidak ada target khusus di hari lebaran tiap tahunnya. Bisa saja jumlah kali ini tak bisa sebanyak tahun kemarin karena memang ada kendala dalam pasokan ayam. “Kalau di sini kan memang khusus ayam kampung, jadi memang sudah punya pemasok sendiri,” katanya.
Meski begitu dia tak menampik apabila pasokan tersebut berkurang karena memang banyak sekali yang membutuhkan daging ayam. Tak hanya penjual ayam panggang seperti dirinya saja. “Jadi pasokannya memang sudah dibagi – bagi. Banyak yang butuh, seberapa pun dapatnya ya sudah, semoga cukup gitu aja,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa sebelum – sebelumnya pun juga sudah menaikkan stok ayam. Awal–awal puasa banyak sekali pesanan termasuk para pengunjung yang datang langsung untuk melangsungkan buka bersama di tempatnya. Namun, menjelang akhir–akhir bulan Ramadhan, banyak sekali pesanan yang dibawa pulang. “Yang di makan di sini gak sebanyak pas awal – awal puasa,” bebernya.
Paling banyak pengunjung di kala lebaran. Pasalnya memang para pekerja mendapat jatah libur agak lama. Namun, dia masih kembali lagi pada stok yang dijatahkan oleh pemasok. Mengingat harga daging ayam kampung memang juga mengalami kenaikan. “Tahun ini kemungkinan meningkat,” katanya.
UNtuk musim lebaran tahun ini dia menyiapkan sebanyak 1000 ekor ayam per harinya. Dia mengungkapkan memang akan banyak sekali pelanggan yang datang. Mulai dari halal bihalal hingga memang bertua dengan keluarga dan bersantap bersama. “Selalu cukup, kita masok gak hanya dari Magetan,”katanya. (fiq/kun)






