Surabaya (beritajatim.com) – Bagi yang akan, baru, maupun sudah berumah tangga, tentu sangat perlu disepakati terlebih dahulu perihal sistem keuangannya. Hal ini cukup penting dilakukan agar pemasukan serta pengeluaran bisa lebih terkontrol.
Jika tidak disepakati bersama, tentu tidak akan berjalan dengan baik. Keuangan rumah tangga pun bisa jadi berantakan. Tidak tau mana prioritas hingga saling melempar tanggung jawab.
Pada dasarnya ada beberapa sistem keuangan untuk rumah tangga yang bisa dipilih. Semua tinggal menyesuaikan dengan kesepakatan bersama, antara suami dan istri, berikut di antaranya;
Sistem bersama
Salah satu sistem keuangan yang paling sering dijumpai ialah sistem bersama. Di sini pemasukan dari suami maupun istri dijadikan satu dalam tabungan yang sama. Tak ada istilah uangmu atau pun uangku. Tak ayal sebelum menggunakan uang harusnya ada kesepakatan bersama.
Kelebihan dari sistem ini ialah lebih transparan perhitungan keuangan rumah tangganya. Namun kelemahannya mungkin lebih ke arah kebutuhan pribadi yang jadi sedikit lebih sulit.
Sistem suami
Ada juga pasangan yang memilih sistem suami. Cara yang satu ini cenderung menyerahkan semua permasalahan keuangan rumah tangga, mulai dari pemasukan hingga pengeluaran adalah tanggungjawab suami.
Dengan kata lain, uang suami seluruhnya untuk keperluan rumah tangga, sedangkan uang istri sekadar untuk kebutuhan pribadi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”tips”]
Sistem bagi tugas
Sistem ini cenderung dilakukan pada pasangan suami istri yang sama-sama bekerja atau berpenghasilan. Jadi tinggal menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kebutuhan dapur, pendidikan anak, dan pengeluaran bulanan untuk rumah.
Pembagian ini dirasa cukup efektif karena saling bagi tugas dan jelas tanggung jawabnya. Meskipun begitu, yang namanya rumah tangga tentu bisa saling memahami dan membantu saat keuangan salah satunya sedang sulit.
Sistem terima beres
Pada sistem ini sang istri tidak menuntut untuk mengetahui berapa penghasilan atau pemasukan suami. Hanya saja, semua kebutuhan bulanan harus dipenuhi oleh suami, sedangkan istri hanya terima beres.
Dalam banyak kasus, sistem ini dipilih para suami karena tidak percaya jika sang istri bisa mengelola keuangan dengan baik.
Meski begitu, ada faktor lain yang bisa saja menjadi alasan. Apapun sistem yang dipilih, setidaknya sudah melalui kesepakatan bersama. (fyi/ian)






