Malang(beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) membenarkan bahwa jenazah yang ditemukan di Purwodadi Pasuruan bernama Bagus Prasetya Lazuardi (25 tahun) adalah mahasiswanya.
Jenazah mendiang Bagus ditemukan di semak-semak di desa Purwodadi Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan pada Selasa (12/4/2022) kemarin.
“Kemarin siang jam 2 dapat info orang hilang. Hanya saja kami dapat info bukan dari keluarga, tetapi dari media sosial. Kemudian pukul 14.30 kita dapat info kalau yang bersangkutan ditemukan meninggal dunia. Informasi dari rekan almarhum bahwa identitasnya memang betul rekan yang dicari selama ini,” kata Wakil Dekan III FK UB, dr. Eriko Prawestiningtyas, Rabu (13/4/2022).
Eriko menuturkan, bahwa mendiang tercatat sebagai mahasiswa program jenjang profesi kedokteran. Dia merupakan mahasiswa angkatan 2014. Mendiang juga sedang menjalani pendidikan profesi dokter dan praktik di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
“Kami mengucapkan duka cita yang mendalam atas kejadian yang menimpa salah satu mahasiswa kami. Setelah mendapatkan informasi tentang korban, kami langsung berkoordinasi dengan Ketua Prodi. Kami juga ikut hadir dalam prosesi pemakaman almarhum di Blitar,” ujar Eriko.
Eriko menuturkan, pihak kampus saat prosesi pemakaman datang dan bertemu dengan keluarga korban termasuk kedua orangtuanya. Dia menyerahkan semua proses hukum kepada pihak polisi.
“Kami prihatin dengan kejadian yang tidak disangka-sangka ini. Sebenarnya selama ini pihak kampus tidak pernah secara langsung mendapatkan laporan dari orang tua korban bahwa yang bersangkutan hilang. Terkait hal yang berkenaan proses penemuan jenazah sepenuhnya bukan kuasa kita, semuanya tanggung jawab kepolisian,” tutur Eriko.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bagus-prasetya-lazuardi”]
Eriko berharap polisi bisa segera mengungkap kematian misterius mendiang Bagus. Kedepan pihak kampus berharap mampu membangun suport sistem dengan mahasiswa agar kejadian serupa tidak lagi terjadi.
“Ini memang bukan sesuatu yang wajar, penyidik bisa mengungkap kasus ini. Kalau diketahui penyebabnya, kampus bisa membangun support system untuk mencegah hal serupa terjadi.
Karena bagaiman apun almarhum adalah anak kami, jadi kami punya rasa tanggungjawab terkait keamanannya dan mahasiswa lainnya,” tandasnya. (luc/ted)






